Semua Belum Benar-Benar Membaik

Tiga tahun berlalu, bagi sejumlah penyintas bencana di Sulawesi Tengah, kondisi belum benar-benar membaik.

palu sigi donggala
Ilustrasi petani jagung di Sigi. (ACTNews)

ACTNews, SIGI – Kehidupan Abdul Rafik (49) belum benar-benar berubah sejak tiga tahun lalu. Ia adalah salah satu korban bencana likuefaksi di Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Selama itu pula Rafik membutuhkan waktu untuk sembuh dari trauma.

Untuk kembali memacu semangat hidup, Rafik mengisi waktu dengan bertani jagung dan merica. Ia dan keluarga pun pindah ke rumah orang tuanya di Desa Karawana, Kecamatan Dolo, sekitar enam kilo meter dari desa lamanya. Sebab, rumah lama Rafik dilumat likuefaksi.


Distribusi air bersih Global Wakaf-ACT kepada salah satu petani bernama Abdul Rafik di Desa Karawana, Sigi tahun 2020 (ACTNews)

“Tetapi kita enggak bisa selamanya jadi petani. Air susah di sini,” cerita laki-laki dengan tiga anak itu, kepada ACTNews, Selasa (28/9/2021). Menurut Rafik, walau ia telah memulai kehidupan baru, masalah tidak pernah benar-benar pergi. Selain ekonomi Sigi yang belum juga membaik pascabencana, kondisi lingkungan di Desa Karawana juga kurang mendukung untuk pertanian.

Masalah pertanian juga diceritakan Bahtiar (69). Sebelum bencana, ia adalah petani yang sukses di desanya, Desa Potoya, Kecamatan Dolo, Sigi. Bahtiar mengaku, kini kehidupannya berbalik 180 derajat. Saat ini Bahtiar harus berjuang bersama istri dan kedua anaknya yang masih sekolah.

“Saya beralih profesi, dari petani padi ke petani jagung manis. Pendapatan sekarang tidak menentu, malah waktu panen jagung harganya anjlok,” kata Bahtiar. Berbeda dengan menanam padi, kata Bahtiar, menanam jagung manis di Kabupaten Sigi biaya keluar lebih banyak daripada pemasukan. Ia pun terpaksa harus mengandalkan bantuan dari orang lain jika harga jagung lagi tidak bersahabat.


Bahtiar usai panen jagung manis di Desa Potoya, Kecamatan Dolo, Sigi (ACTNews)

“Buat dapat air juga harus bayar. Meski ada sumur, ambil air itu pakai alat dan perlu bensin. Sedangkan buat bensin enggak gratis. Kalau dihitung-hitung pasti lebih banyak ruginya,” lanjutnya.

Saat musim panen hampir tiba, Bahtiar biasa meminjam uang lebih dulu ke tengkulak. Uang itu ia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Saat musim panen tiba, uang hasil panen langsung habis untuk membayar utang.

Tiga tahun ini pertanian di Sigi semakin buruk. Gagal panen sering dialami oleh para petani di Sigi. Faktor cuaca menjadi salah satu penyebabnya. Seperti musim panas yang berkepanjangan, hingga hujan turun satu kali dalam satu bulan. Bahkan menurut Bahtiar, bencana sekarang lebih besar dari sekedar gempa. “Banyak yang tersiksa dan bahkan tidak bisa bertahan,” katanya.[]