Senyum Penyapu Beras Jumiyati Terima Operasi Makan Gratis

Lapar dan lelah harus dikesampingkan Jumiyati (50), seorang penyapu beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur. Setiap hari dirinya harus mengumpulkan butir demi butir beras yang berceceran di truk maupun tanah.

operasi makan gratis
Lewat nampan berwarna ungu, Jumiyati mengumpulkan butiran beras yang berceceran di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur. (ACTNews/Ichsan Ali)

ACTNews, JAKARTA – Keringat bercucuran tampak di dahi Jumiyati (50), salah seorang penyapu beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur. Terdengar asing, “penyapu beras” adalah pekerjaan yang telah ditekuni Jumiyati selama 20 tahun. Setiap hari, pekerjaannya mengumpulkan butir demi butir beras yang tercecer dari truk maupun tanah di setiap seluk beluk pasar seluas 14,5 hektare itu.

Lapar dan lelah harus dikesampingkan wanita asal Pamanukan, Subang, Jawa Barat ini. Sejak pagi, Jumiyati menyiapkan nampan plastik ungunya dan kantong plastik sebagai wadah untuk beras yang telah ia kumpulkan.

“Ya kadang dapat 2-3 liter. Nanti ini (beras) dijualin lagi Mas, di sini (Pasar Induk) ada penampungnya. Seliter (harganya) Rp8 ribu. Kadang juga buat dimakan sendiri (berasnya),” ungkap Jumiyati, pada Selasa (24/8/2021).

Menurut Jumiyati, penyapu beras adalah sebuah pekerjaan yang paling berharga dalam menyambung hidupnya. “Ya kadang-kadang sepi kadang-kadang ramai. (Berangkat) dari jam setengah 8 (pagi), kalau pulang kadang-kadang jam tiga sore,” tutur Jumiyati.

Biaya kontrakan sebesar Rp600 ribu per bulan dan tagihan listrik yang makin menggunung membuat hati Jumiyati semakin gelisah setiap harinya. Belum lagi biaya kebutuhan makanan yang harus selalu dipenuhi.

Kehadiran Humanity Food Bus dalam Operasi Makan Gratis pada siang itu menjadi berkah tersendiri bagi Jumiyati. Sambil menahan haru, dirinya berterima kasih dan sangat bersyukur atas hidangan siap santap ini. “Alhamdulillah, beneran deh Mas saya bersyukur banget ada ini. Nanti buat saya makan sore aja,” tambahnya.[]