Sepak Terjang Para Dai di Pelosok Kabupaten Banjar

Meskipun dengan fasilitas seadanya, para dai di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, terus berjuang menebarkan cahaya Islam melalui pendidikan.

bantuan dai
Banyak dari para pengajar yang ikhlas memberikan ilmu dengan sukarela. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN BANJAR – Wilayah Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, terbilang cukup luas. Sejumlah pulau di sekitar kecamatan itu pun tidak saling terhubung. Akses yang cukup sulit, menjadikan banyak sarana dan prasarana di sana yang masih minim fasilitas, termasuk sarana pendidikan.

Seperti yang terlihat di Madrasah Diniyah Darusaadah di Desa Podok. Berdiri sejak tahun 2006, sampai saat ini bangunan berukuran 8 x 6 meter ini masih terlihat memprihatinkan. Beberapa bagian dari bangunan sudah banyak yang lapuk. Bahkan meja untuk belajar terbuat dari kayu sederhana hasil buatan masyarakat sekitaran madrasah yang turut prihatin. Untuk tempat pengajian para dai pun, masih seadanya.

Setiap kali mengaji santri dikenakan iuran seribu rupiah per pertemuan, sementara ada total tiga pengajar per hari. Terkadang 1 guru bisa dapat Rp7-8 ribu. Kesulitannya, beberapa guru berasal dari desa yang berbeda sehingga memerlukan biaya transportasi yang kadang lebih dari upah menjadi tenaga pengajar di madrasah.


"Mengajar mengaji ini lillah, hanya karena mengharap rida Allah untuk mendidik anak-anak dalam belajar Al-Qur’an. Meskipun tidak bergajih, kami ikhlas menjalaninya," ucap Ustaz Ardia sebagai Kepala Madrasah Diniyah Darusaadah saat ditemui Sabtu (15/1/2022) kemarin.

Cerita serupa pun ada di Desa terapu, tepatnya di Rumah Tahfiz Al Ikhwan. Ustaz Zainuddin dan istri bersama 1 warga, mengajar kurang lebih 80 anak di rumah tahfiz berukuran 3 x 4 meter ini. Kendala terbesar saat ini adalah bangunan rumah tahfiz yang sering terendam banjir, bahkan merendam hingga setengah bangunan.

Bangunan yang mereka gunakan memang dapat dikatakan belum memadai. Tetapi Ustaz Zainuddin pun, tidak memungut bayaran dari para santri. “Hanya suka rela, kadang dibayar mengunakan gabah dari para orang tua santri yg anaknya belajar di Rumah Tahfiz Al Ikhwan,” kata Ustaz Zainuddin.

Lewat program Gerakan Nasional Sejahterakan Dai Indonesia, Global Zakat-ACT mengapresiasi perjuangan para tenaga pengajar di Madrasah Diniyah Darusaadah dan Rumah Tahfiz Al Ikhwan. Pada hari itu, para pengajar mendapatkan bantuan biaya hidup. Diharapkan semangat para pengajar tetap terjaga dengan adanya apresiasi ini. []