Sepanjang November, 402 Warga Palestina Ditahan Zionis Israel Tanpa Alasan

Kelompok hak asasi manusia mencatat ada 402 warga Palestina yang ditahan oleh Israel pada November. Puluhan di antaranya anak-anak. Mayoritas dari mereka ditangkap tanpa alasan yang jelas.

warga palestina ditahan israel
Wanita Palestina ditangkap pasukan Israel. (Dokumen Istimewa)

ACTNews, YERUSALEM – Sejumlah kelompok hak asasi manusia di Palestina menyatakan, setidaknya 402 warga Palestina ditangkap pasukan Israel pada bulan November. Ada sekitar 66 anak di bawah umur yang ikut ditangkap.

Kota Yerusalem yang berada di wilayah okupasi, menempati urutan pertama dengan 160 penahanan, termasuk 54 anak-anak.

Kelompok hak asasi tersebut juga melaporkan adanya penerbitan 123 perintah penahanan administratif dari otoritas Israel. Kebijakan penahanan administratif memungkinkan pihak berwenang Israel untuk menahan warga Palestina hingga enam bulan tanpa tuduhan atau pengadilan.

Secara total, laporan tersebut memperkirakan bahwa 4.550 warga Palestina masih ditahan di penjara Israel sejauh ini, termasuk 32 wanita, 170 anak di bawah umur, dan 500 orang ditahan di bawah kebijakan penahanan administratif Israel.

Keberlangsungan hidup warga Palestina yang ditahan Israel pun menjadi kritikan sejumlah pihak. Kasus kekerasan dan pelanggaran privasi para tahanan pun sempat menjadi sorotan media-media internasional. Para tahanan wanita juga kerap tidak mendapat ruangan tertutup untuk berganti pakaian. Banyak kasus warga Palestina yang ditahan dibiarkan kelaparan dengan tidak diberi jatah makan berhari-hari.

Selain itu, otoritas penjara Israel juga kerap melanggar aturan administratif dengan tidak mengizinkan warga Palestina yang ditahan untuk dibesuk. Hal ini yang pernah dirasakan Sabah Shorbaji (39), seorang ibu Palestina yang ditangkap pasukan Israel tanpa alasan yang jelas. Selama berbulan-bulan di penjara, keluarga Sabah dilarang untuk menjenguknya.

Padahal, dalam aturan Komite Palang Merah Internasional, izin kunjungan untuk keluarga narapidana harus dikeluarkan setidaknya tiga bulan setelah tanggal penahanan. Ketidakadilan yang diterima Sabah pun tidak berhenti sampai di situ.

Ketika masa tahanannya berakhir dan tiba waktunya ia dibebaskan, tanpa alasan yang jelas Sabah mendapat perpanjangan masa tahanan selama empat bulan. Bukan sekali, terhitung ia menjalani perpanjangan masa tahan sebanyak empat kali.

"Saya menangis sepanjang waktu saat itu. Memikirkan anak-anak saya di rumah, apakah mereka sudah makan. Itu (pemanjangan masa tahanan) sangat mengejutkan bagi saya. Saat itu saya terus menghitung hari untuk kebebasan saya," ujar Sabah mengenang ketika ia ditahan di penjara Israel.[]