Sepinya Pendapatan Pekerja Harian di Tasikamalaya

Penarik becak seperi Usin (68) di Tasikmalaya mulai sepi sejak pandemi mulai di Indonesia, bahkan hingga kini di era kenormalan baru. Urusan perekonomiannya terganggu, berdampak pada urusan pangan diri sendiri hingga keluarganya.

Waris, salah seorang penarik becak di pusat Kota Tasikmalaya sedang mengambil kebutuhan pangan di rak sedekah pangan, Kamis (27/8). Selama pandemi Covid-19, pendapatannya sebagai penarik becak berkurang drastis. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA – Usin (68) merupakan seorang penarik becak di pusat Kota Tasikmalaya. Warga Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya ini memulai profesinya sejak puluhan tahun yang lalu, dan hingga kini ia masih tetap dengan profesi yang sama. Tak ada penghasilan besar yang ia dapat. Pelanggannya pun merupakan warga Tasikmalaya atau mereka para pelancong yang kebetulan sedang berkeliling di pusat kota.

Tahun 2020 merupakan tahun yang paling berat bagi Usin. Adanya pandemi Covid-19 berdampak pada pendapatan pekerja harian itu. Hingga kini, di era kenormalan baru, pendapatan Usin pun tak kunjung kembali normal. Untuk itu, ia menjalani profesi lain, yaitu pencari barang bekas, sebagai ikhtiar menambah pemasukan ekonomi keluarga.

“Kalo siang ngebecak, malamnya nyari rongsokan. Kalau cuma narik becak doang dapatnya (uang) dikit, jarang dapat penumpang,” ungkap Usin.

Barang bekas yang Usin kumpulkan nantinya akan dijual ke pengepul barang bekas. Uang tersebut akan digabung dengan hasil dari menarik becak. Pendapatan yang Usin kumpulkan nantinya bakal ia bawa pulang untuk keluarganya yang tinggal di Ciawi, Tasikmalaya. Akan tetapi, sejak pandemi ini, Usin sangat kesulitan untuk mendapatkan uang. Jangankan memenuhi kebutuhan keluarganya di kampung halaman, untuk memenuhi kebutuhannya sendiri di pusat Kota Tasikmalaya saja Usin kesulitan.

Serupa Usin, Waris, yang juga penarik becak di Tasikmalaya, pun mengutarakan bagaimananya sulitnya kehidupan sejak pandemi melanda. Dalam satu hari, tak tentu ada satu penumpang becak. Hal ini lah yang kemudian membuat pekerja harian seperti penarik becak mengalami kesulitan ekonomi.

Usin dan Waris merupakan beberapa di antara pekerja harian yang Aksi Cepat Tanggap (ACT) temui di Kantor ACT Tasikmalaya. Hadirnya mereka untuk mengambil kebutuhan pangan secukupnya di Lumbung Sedekah Pangan. Terdapat berbagai bahan pangan yang bisa diambil secara gratis oleh penerima manfaat.

“Lagi kondisi sulit kayak gini sangat senang ada rak sedekah yang isinya kebutuhan makan. Saya ambil secukupnya, buat teman-teman yang lain juga,” ungkap Waris, Kamis (27/8).

Fauzi Ridwan dari Tim Program ACT Tasikmalaya mengatakan, hadirnya Lumbung Sedekah Pangan di Tasikmalaya merupakan bagian dari Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan yang ACT inisiasi sejak beberapa waktu lalu. Berbagai kebutuhan pangan dari masyarakat bisa diletakkan di rak yang menjadi penghubung dengan penerima manfaat.

“Masyarakat luas sangat bisa berkontribusi dengan menghadirkan sedekah pangan terbaiknya langsung ke rak sedekah pangan. Namun, bagi yang ingin bersedekah dalam bentuk uang, bisa dengan menyalurkannya melalui rekening BNI Syariah 88 0000 9277 atas nama Aksi Cepat Tanggap. Dana yang terkumpul akan dibelikan berbagai kebutuhan pangan untuk masyarakat prasejahtera,” jelas Fauzi.[]