September Ini, Indonesia Memasuki Puncak Kemarau

Kekeringan ini merupakan dampak dari kemarau panjang ditambah dengan El Nino yang sedang terjadi. Selain dari menghemat penggunaan air, BMKG juga mengimbau warga perlu berinisiatif memberikan bantuan kepada daerah-daerah membutuhkan.

September Ini, Indonesia Memasuki Puncak Kemarau' photo
Tempat penampungan air hujan yang mulai kering di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA - Kemarau panjang masih melanda Indonesia. Di Indonesia, kemarau bahkan tersebar hampir tersebar di seluruh Pulau Jawa. Dari data Climate Early Warning System (CEWS) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, hampir di seluruh Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami hari tanpa hujan (HTH) hinga lebih dari 60 hari.

Dodo Gunawan selaku Kepala Informasi Perubahan Iklim BMKG memang mengakui bahwa bulan September ini sedang masuk puncak musim kemarau. Ditambah katanya, El Nino juga turut menambah panas kemarau kali ini, kendati levelnya masih lemah.

“Sebagaimana kita ketahui saat ini kita sedang di puncak-puncaknya musim kemarau. Tapi dari waktu ke waktu variasinya itu besar, berfluktuasi, dan ini ada pengaruhnya dengan kondisi El Nino. Saat ini memang level El Nino dapat dikatakan level lemah,” ujar Dodo pada Selasa (17/9) di Gedung B-BMKG, Jakarta Pusat.


Sumber: Situs resmi BMKG

Menurut Dodo, musim hujan di Indonesia sendiri bervariasi datangnya. Namun secara umum, variasi musim hujan baru akan banyak tersebar di tiga bulan terakhir tahun 2019. Untuk itu, BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk berusaha menggunakan air yang bersih, sekalipun sedang kesulitan. Hal ini karena kualitas air yang buruk dapat berdampak kepada kesehatan secara langsung.

Selain itu, ia meminta masyarakat untuk menghemat air sampai tiba musim hujan nanti. Dodo juga menawarkan solusi kekeringan dengan berbagi air ke daerah-daerah yang membutuhkan.

“Sekarang ini juga banyak lembaga-lembaga yang secara aksi menyediakan air melalui pengambilan air bersih dan didistribusikan. Kondisinya memang sudah seperti itu. Jadi sumber-sumber air yang terdekat di beberapa daerah sudah habis, disuplai dari daerah yang masih cukup air. Jadi saling membantu,” imbuh Dodo.

Misalnya saja, yang selama ini dilakukan oleh para dermawan melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT). Dengan Humanity Water Tank, per tanggal 17 September 2019 ini, ACT telah mengalirkan 2.327.500 liter air kepada 176.828 jiwa melalui 199 aksi. Aksi distribusi air untuk menjangkau daerah-daerah kekeringan tersebut hingga kini masih terus berjalan. []

Bagikan