Serangan Gas Sekap Anak-Anak Ghouta Timur

Serangan Gas Sekap Anak-Anak Ghouta Timur

ACTNews, GHOUTA TIMUR - Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi yang menuntut  gencatan senjata di wilayah konflik Ghouta Timur, Sabtu (24/2). Resolusi tersebut dibuat demi membuka akses bantuan kemanusiaan ke Ghouta Timur. Namun demikian, keputusan tersebut berbuntut pada penyerangan susulan oleh rezim kepada oposisi di wilayah konflik itu. 

Ahad (25/2), jet tempur rezim kembali menyasar beberapa distrik dan kota kecil di Ghouta Timur. Kali ini, serangan yang diluncurkan berupa gas beracun di Al-Shifoniyah, salah satu kota kecil di Ghouta Timur, serangan gas beracun itu justru mengenai perempuan dan anak-anak. Seketika itu juga mereka menderita sesak nafas. 

Peristiwa ini dilaporkan oleh Pertahanan Sipil Suriah yang berada di Ghouta Timur. Gas yang digunakan dalam serangan tersebut diduga berjenis klorin. Hal ini dilihat dari gejala yang dialami para korban, seperti dyspnea, iritasi intensif pada selaput lendir, iritasi pada mata, dan pusing.

 

Beberapa korban dilarikan langsung ke sejumlah klinik di Al-Shifaniyah. “Delapan belas korban telah diberi penanganan medis seperti pemberian oksigen,” jelas menteri kesehatan setempat.

Selain serangan gas beracun, pesawat tempur rezim juga meluncurkan tembakan ke berbagai distrik dan dan kota kecil yang ada di wilayah rural Damaskus. Melansir dari Al Jazeera, serangan Ahad (25/2) lalu menewaskan 27 penduduk sipil di Ghouta Timur.

Hingga kini, lebih dari 500 penduduk sipil meninggal dunia akibat serangan yang dilancarkan rezim sejak Ahad (18/2). Sekitar 120 di antaranya adalah anak-anak. Sementara itu, 2.400 korban lainnya mengalami luka-luka.

 

Ghouta Timur telah dikepung pihak oposisi sejak 2013. Pasang surut perang berlanjut, melibatkan oposisi, rezim, dan juga beberapa negara lainnya yang terkait. Pengepungan selama lima tahun ini membuat bantuan kemanusiaan internasional sulit mengakses Ghouta Timur. Ditambah dengan kondisi konflik yang makin intens seminggu belakangan ini, akses masuk pun semakin dibatasi.

Imam Akbari selaku Senior Vice President ACT menekankan bagaimana saat ini, faktanya, tragedi kemanusiaan tengah berlangsung di Ghouta Timur. Manusia-manusia paling rentan, khususnya anak-anak, setiap saat harus meregang nyawa.

 

“Ini saatnya kita beraksi atas nama kemanusiaan. Tidak ada alasan bagi kita untuk membantu dalam konteks kemanusiaan, meskipun yang kita tolong berasal dari latar belakang yang berbeda. Kami lembaga kemanusiaan, tugas kami beraksi menolong korban konflik dan mengajak banyak orang untuk peduli bersama,” terang Imam, Senin (26/2).

Insya Allah, ACT terus berikhtiar semaksimal mungkin untuk mencapai Suriah, bekerja sama dengan mitra-mitra yang berlokasi dekat dengan area konflik. Sebagai tahap awal, ACT telah memberangkatkan Tim SOS for Syria XIV pada Jumat (23/2) dan Sabtu (24/2). Tim akan mendistribusikan bantuan pangan dan medis bagi para pengungsi Suriah yang mencoba menyelamatkan diri dari Ghouta Timur. [] 

Foto: Anadolu, AFP, Reuters
Tag

Belum ada tag sama sekali