Serangan Urungkan Langkah Anak-Anak Idlib Pergi ke Sekolah

Bom telah membuat Khali absen sekolah selama dua tahun.

Serangan Urungkan Langkah Anak-Anak Idlib Pergi ke Sekolah' photo

ACTNews, IDLIB - Serangan udara yang belakangan terjadi di wilayah Idlib berpengaruh terhadap pendidikan bagi puluhan ribu anak Suriah. Tak jarang, rasa takut mengurungkan langkah anak-anak Idlib untuk pergi ke sekolah. Seperti yang dialami seorang siswa kelas dua belas, Khali Salem (17). Khali adalah salah satu anak dari keluarga pengungsi internal di Idlib, sebelumnya tinggal di Ghouta.


“Saya dan keluarga pindah dari Ghouta tahun lalu (2018) karena serangan bom terjadi bertubi-tubi di sana. Bom telah membuat saya absen sekolah selama dua tahun. Bom yang memunculkan harapan ketika saya tiba di Idlib. Saya berharap bisa melanjutkan pendidikan dengan tenang di Idlib,” ungkap Khali, melansir artikel TRT World, Kamis (16/5).


Namun, seluruh harapan Khali sirna ketika melihat banyak gedung sekolah tidak lagi ideal bagi anak-anak di Idlib. Banyak sekolah yang sudah tutup, baik karena roboh akibat terkena serangan maupun karena sudah tergantikan dengan bangunan lain. Serangan yang terus berkelanjutan dengan akibat serupa, lagi-lagi kaum rentan menjadi korban, membuat Khali menyebut, pendidikannya telah terganggu sebanyak puluhan kali sejak perang bermula.


Terakhir, gangguan itu dirasakan pascaserangan udara yang dilancarkan bertubi-tubi di Idlib dalam kurun waktu dua pekan, sejak akhir April lalu. Serangan yang juga membuat Khali harus melarikan diri dan meninggalkan rumahnya lagi. “Sepertinya kami akan mengungsi ke pegunungan. Kami tidak tahu kapan bisa pulang ke rumah atau kapan bisa kembali bersekolah. Saya ingin belajar, saya ingin membangun masa depan, dan membantu keluarga saya di masa depan,” papar Khali.


Ia memang mengaku memiliki cita-cita besar yang tadinya ia anggap bisa dicapai dengan menempuh pendidikan di Idlib yang aman, jauh dari serangan atau bombardir. Namun, pasukan agresif justru menargetkan ‘rumah barunya’ untuk melancarkan serangan, menyebabkan hingga 250.000 warga melarikan diri, termasuk Khalid dan keluarganya.


“Saya suka matematika, dan saya ingin belajar teknik sipil di masa depan. Tapi saya putus asa untuk kembali ke sekolah, sebab tak ada yang tahu kapan atau bagaimana itu (serangan) akan terjadi,” terang Khali.


Banyak sekolah terpaksa tutup


Ketika pesawat-pesawat menjatuhkan serangan dari atas udara, tak dapat dipungkiri bahwa tidak ada satupun mengetahui apa dan siapa yang bakal menjadi korban. Bahkan pada waktu yang tenang sekalipun, serangan bisa mengancam siapa saja, termasuk para guru dan siswa yang sedang berada di sekolah. Baha Badawi, salah seorang guru bahasa Arab di Sekolah Maraat Al-Nouman mengatakan, sekolah terpaksa ditutup akibat serangan.


“Pekan lalu, ketika salah satu pelajaran berlangsung, sebuah pesawat terbang menghantam sebuah desa, di mana sekolah kami berdiri. Kala itu, kami sedang meninjau topik untuk ujian yang akan berlangsung setelah Ramadan. Namun, kami tidak bisa melakukannya lagi kare sekolah dengan terpaksa telah kami tutup,” terang Badawi.


Badawi dan seluruh pihak sekolah mengaku pesimis akan terjadi ketidakmampuan dalam mengelola sekolah di tengah situasi genting. Apalagi Idlib sekarang sering menjadi target serang utama, selain Hamat. Badawi pun mengimbau kepada berbagai pihak untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman dan dilindungi dari serangan pasukan agresif.


“Namun, mereka tidak memiliki martabat untuk menjauhkan pesawat tempur dari sekolah dan rumah sakit,” pungkas Badawi. []



Sumber foto: Al Jazeerah

Bagikan