Seribu Hidangan Iftar dari Dermawan Redam Kerawanan Pangan Somalia

Hidangan iftar dibagikan untuk seribu saudara muslim di kamp pengungsian Malable, Distrik Garasabaley, di Banaadir, Somalia. Bantuan diberikan agar mereka tidak perlu lagi menahan laparnya meski waktu berbuka telah tiba.

bantuan iftar somalia
Relawan membagikan bantuan hidangan iftar untuk para pengungsi di Garasabaley, Somalia. (ACTNews)

ACTNews, BANAADIR – Konflik bersenjata selama hampir dua setengah dekade di Somalia menyebabkan perekonomian warganya tumbang. Kondisi diperparah dengan adanya serbuan hama belalang gurun yang diperkirakan berasal dari wilayah Ethiopia dan Sudan, membuat para petani kerap mengalami gagal panen.

Produksi pertanian juga kian merosot setelah Somalia mengalami musim hujan yang buruk untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak akhir 2020. Air hujan yang  seharusnya membasahi tanah Somalia tidak turun. Hal ini membuat kekeringan di negara mayoritas muslim tersebut menjadi semakin parah

Rangkaian krisis ini menyebabkan timbulnya kerawanan pangan yang parah di Somalia. Kelaparan menimpa hampir di setiap warganya. Banyak dari mereka yang akhirnya berbondong-bondong meninggalkan Somalia.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Tim Global Humanity Response (GHR) dari Aksi Cepat Tanggap, ada 870 ribu warga Somalia yang mengungsi ke wilayah Tanduk Afrika dan Yaman, sementara diperkirakan 2,1 juta warga Somalia menjadi pengungsi internal di negaranya sendiri.

Kerawanan pangan membuat para pengungsi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makanan selama Ramadan, termasuk untuk berbuka puasa. Pengungsi di Kamp Malable di Distrik Garasabaley, Kota Banaadir contohnya. Mereka seakan telah terbiasa menahan lapar meski waktu berbuka sudah tiba.

Merespon hal tersebut, pada Senin (25/4/2022) kemarin, para dermawan melalui ACT mencoba meringankan beban para pengungsi dengan memberikan bantuan hidangan iftar untuk mereka berbuka puasa.

"Bantuan iftar sudah kita bagikan pada 25 April kemarin. Kita bagikan langsung di area sekitar tenda. Sedikitnya 1.000 orang pengungsi akhirnya bisa merasakan hidangan yang layak untuk berbuka puasa di bulan suci ini. Menu iftar tersebut adalah seporsi besar nasi briyani yang ditambah daging dengan potongan besar," ujar Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Network ACT.

Para pengungsi pun nampak bergembira dengan pembagian bantuan iftar ini. Mereka dengan semangat keluar dari tendanya yang sangat sederhana tersebut, dan mulai membentuk antrian untuk mendapat hidangan iftar. Beberapa pengungsi yang kesulitan untuk berjalan, juga dibantu oleh para relawan dengan memberikan hidangan langsung ke depan tenda mereka. []