Setahun Berlalu, Penyintas Longsor Cileuksa Sulit Dapatkan Pekerjaan

Kebanyakan warga di huntara Kampung pasir Eurih, Kabupaten Bogor, bekerja sebagai petani dan pekebun. Ketika longsor mengubur sumber penghasilan mereka tahun 2020 lalu, ekonomi mereka pun terdampak.

Suasana sore di huntara Kampung Pasir Eurih.
Suasana sore di huntara Kampung Pasir Eurih. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – “Kang, ada pekerjaan enggak, Kang? Anak saya baru lulus SMA ini, lagi cari kerjaan,” canda Suwanah kepada Tim ACTNews, Senin (26/4/2021). Mereka masih tinggal di hunian nyaman sementara (huntara) sejak longsor menghancurkan kampung mereka, Kampung Pasir Eurih, Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, awal tahun 2020 silam.

Setelah satu tahun berlalu permasalahan yang timbul adalah lapangan pekerjaan. Sebelumnya, para penyintas bekerja di sawah atau ladang. Namun sekarang, ladang dan sawah tertimbun tanah, termasuk miliki Suwanah.

“Sekarang, makan juga dikasih orang. Terus terang saja, ibu enggak punya apa-apa. Kan dahulu beras enggak beli, kebun punya. Enggak kekurangan. Sekarang suami ibu juga udah meninggal, ibu sama anak mau minta sama siapa?” lanjut Suwanah.

Selain Suwanah, Herman, salah satu penyintas yang lain, kini menanggung istri dan tiga anak. Sebelumnya, bertani hanya jadi satu-satunya sumber pemasukan. Ketika lahan tersebut hilang, Herman kesulitan mencari pekerjaan lagi.


Kini banyak warga yang mengharapkan bantuan dari para dermawan. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Sudah habis semua, sawah, ladang. Dulu, lauk pauk ambil sendiri dari kebun, sekarang enggak ada. Mau ambil daun pisang sama daun ubi di depan rumah saja susah. Jadi seadanya saja (untuk makan),” kata Herman ditemui pada Selasa (27/4/2021) lalu.

Sehari-hari, Herman serabutan dan menjadi kuli bangunan, itupun kalau ada yang memanggil jasanya. Namun, dalam pengakuannya, selama lima belas hari, tidak sepeser pun menerima uang karena belum bekerja.

Armunah, penyintas banjir yang tinggal bersama suaminya juga merasakan hal serupa. Nenek dari sembilan cucu itu bertahan seada-adanya. “Habisnya bagaimana, enggak ada bantuan. Sekarang juga puasa mau makan apa? Buat sekarang jual apa saja yang ada. Kalau punya pisang misalnya, ya jual pisang,” jelasnya.


Untuk berbuka puasa misalnya, Armunah mengaku sempat hanya menghidangkan nasi, air putih, ikan asin, dan singkong. “Sekarang mah apa boleh buatlah, apa adanya saja. Pasrah saja begitu,” ujar Armunah.

Yhoko Kuncoro dari Tim Program Aksi Cepat Tanggap Bogor Barat menerangkan, bantuan untuk penyintas Bogor tidak bisa hanya berupa bantuan jangka pendek. Perlu solidaritas dan kesinambungan untuk membantu para penyintas.

Sementara itu, untuk meredam kesulitan warga di huntara Kampung Pasir Eurih, Aksi Cepat Tanggap menyampaikan bantuan berupa Beras Wakaf beserta Air Minum Wakaf yang datang langsung dari Waqf Distribution Center, Gunung Putri. Suwanah, Herman, Armunah dan ratusan warga lainnya menerima bantuan dari Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan tersebut.

“Ada ratusan paket beras yang kita sampaikan kepada para pengungsi. Bantuan pangan ini menjadi wujud empati Sahabat Dermawan atas mereka yang menjalani Ramadan kedua di Huntara,” jelas Yhoko Kuncoro dari Tim Program ACT Bogor Barat.[]