Setahun Gempa Palu: Sebuah Catatan Ikhtiar Pemulihan

Pada satu tahun lalu, gempa hebat sekuat 7.7 skala magnitudo memproak-porandakan Palu, Sigi, dan Donggala. Usaha membangkitkan kembali wilayah terdampak terus dilakukan, dari menurunkan bantuan, hingga anjuran mitigasi.

Setahun Gempa Palu: Sebuah Catatan Ikhtiar Pemulihan' photo
Dampak gempa yang merobohkan rumah masyarakat. (ACTNews/Redaksi ACTNews)

ACTNews, SULAWESI TENGAH - Tanah Celebes diguncang kekuatan hebat pada Jumat (28/9/2019) itu. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat gempa sekuat 5.9 skala magnitudo mengguncang pada pukul 14.00 WIT, disusul kembali dengan gempa berkekuatan 5 skala ritcher 28 menit setelahnya.

Guncangan tersebut melepaskan kekuatan terbesarnya tepat pada pukul 17.02. Gempa sekuat 7.7 skala magnitudo yang kemudian dimutakhirkan menjadi 7.4 mengguncang. Kepanikan makin menjadi menyusul peringatan dini tsunami yang kemudian dikeluarkan oleh BMKG. Masyarakat berhamburan dan mencari tempat aman.

Gempa yang diakibatkan bergeraknya sesar Palu-Koro ini seolah belum cukup. Beberapa saat setelah gempa, air pasang bersusulan menuju bibir pantai dengan tinggi 1.5 meter. Air berdiri, istilah masyarakat setempat menyebut tsunami, langsung menyapu pesisir Palu dan Donggala.

Seolah belum usai, beberapa saat setelah gempa di empat titik lainnya, yakni di Desa Jono Oge, Balaroa, Petobo, dan Palu, mengalami fenomena lain lagi. Tanah bergerak selayaknya pusaran air yang menghisap dan menghancurkan apapun di permukaannya. Bumi memuntahkan lumpur hitam di sana. Likuefaksi atau pencairan tanah, istilahnya adalah fenomena ketika tanah kehilangan kekuatan atau kekakuanya akibat adanya tegangan.


“Ketika gempa, tanah ada yang mengalami penurunan sampai 5 meter, juga ada yang naik hingga setinggi rumah,” jelas Kepala Pusat Data, Infomasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugoro saat konferensi pers perkembangan evakuasi gempa Donggala, Senin (1/10/2018).

Sulawesi Tengah berduka. Per 10 Oktober 2018, BNPB merilis data sebanyak 2.045 orang meninggal dunia. Data dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga mengatakan, per Ahad (30/9) 16.732 jiwa kehilangan tempat tinggalnya di 123 titik daerah terdampak.

Membantu Palu, Sigi, Donggala Bangkit

Satu tahun berlalu. Semenjak bencana besar tersebut mengguncang, ACT terus membersamai korban terdampak gempa di palu. Mulai dari evakuasi jenazah, bantuan logistik, aksi medis, hingga pemulihan pascabencana yang sampai kini terus dilakukan untuk membantu Sulawesi Tengah bangkit dari dukanya.

Seperti yang tercatat pada bulan Februari 2019 ini, lebih dari 900 Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) telah dibangun untuk penyintas bencana di sana. Beberapa hunian dengan konsep Family Shelter di beberapa titik juga terus dibangun pada bulan itu.


ACT juga hadir memberikan pemberdayaan ekonomi masyarakat setelah gempa. Pada Juli 2019 ini, Sekitar 40 penyintas gempa dan likuefaksi yang menempati Integrated Community Shelter (ICS) Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, masuk menjadi anggota pemberdayaan ekonomi ACT Sulawesi Tengah (Sulteng). Dibagi menjadi empat kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 orang. 

Kepala Program ACT Sulteng Mustafa menjelaskan, upaya pemberdayaan diadakan untuk membangun kembali potensi perekonomian bersama penghuni ICS Langaleso. Pemberdayaan sendiri tersebut dalam bentuk usaha bawang goreng, yang memang menjadi salah satu makanan khas Sulawesi Tengah. 

“Pascabencana, kami merasa pemberdayaan masyarakat bisa menjadi solusi untuk kembalinya potensi perekonomian di Sigi. Dimulai dari masyarakat, manfaatnya juga untuk masyarakat,” kata Mustafa.