Setahun Menopang Kebutuhan Pangan Santri

Terhitung sudah satu tahun program Beras untuk Santri Indonesia dari ACT berjalan mendampingi kebutuhan pangan santri prasejahtera. Hingga kini pun, program kebaikan ini terus berjalan atas dukungan para dermawan.

Setahun Menopang Kebutuhan Pangan Santri' photo
Santri di Kabupaten Banjar saat menerima beras wakaf dari program Beras untuk Santri Indonesia, Kamis (22/10). (ACTNews)

ACTNews, BANJAR Pesantren Nurul Hidayah berdiri di Desa Lok Baintan Luar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Ada ratusan santri yang menggantungkan pendidikan mereka di sini. Mayoritas mereka datang dari keluarga petani di berbagai daerah, Ada yang berasal dari Barito Kuala bahkan hingga Kalimantan Tengah. Pendidikan gratis menjadi daya tarik mereka untuk menuntut ilmu di pesantren itu. Hal tersebut karena tak sedikit dari orang tua santri yang kondisi ekonominya masih prasejahtera.

Yusdi, Ketua Yayasan dari Pondok Pesantren Nurul Hidayah memang mendirikan pesantren ini sebagai lembaga pendidikan yang tak berorientasi pada nilai uang. Baginya, pendidikan adalah hak bagi siapa pun, termasuk anak dari keluarga prasejahtera. Walau begitu, pendidikan yang diberikan ke para santri pun layaknya santri di pesantren lain yang lebih tenar namanya. Tak hanya belajar kitab, tapi juga pelajaran umum hingga budi pekerti santri dapatkan di sini.

“Siapa pun dia jika ingin sekolah, maka akan kami terima,” ungkap Yusdi kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Kamis (22/10) yang juga bertepatan dengan Hari Santri Nasional.

Berdirinya Pesantren Nurul Hidayah seakan menjadi wujud nyata orang-orang yang rela mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Demi mempertahankan pesantren tersebut, para guru dan ustaz rela dibayar rendah, sedangkan santri sama sekali tak dipungut biaya. Satu-satunya pendanaan untuk pesantren berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah yang digunakan untuk mengupah guru dan ustaz.

Bantuan untuk pesantren

Pada Kamis (22/10) ini yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional yang juga tepat dengan setahunnya program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI), ACT mendistribusikan 500 kilogram beras untuk “warga” Pesantren Nurul Hidayah.

Sambutan baik nan meriah pun datang dari santri yang menjadi subjek utama penerima manfaat beras ini. Siti Rahmawati salah satunya. Santri kelas 3 Aliyah yang juga Ketua Asrama Putri Pesantren Nurul Hidayah tersebut merasa senang dengan bantuan beras dari ACT. Ia menuturkan kondisi mereka dan keluarga yang serba terbatas karena ekonomi. Sehingga adanya 500 kilogram beras ini sanggup menjadi pelipur lara bagi dirinya dan santri lain untuk beberapa waktu mendatang.

“Untuk pangan, selain bekal dari rumah masing-masing, sebagian santri ada yang mengolah lahan sawah pesantren, nanti hasilnya dibagi rata. Ada juga santri yang berjualan untuk memenuhi kebutuhan harian,” tutur Siti.

Sebanyak 500 kilogram beras untuk Pesantren Nurul Hidayah merupakan bagian kecil dari distribusi beras yang telah program BERISI salurkan selama setahun ini. Terhitung sejak awal tahun 2020 ini hingga 20 Oktober saja ada lebih dari 65.000 kilogram beras wakaf terdistribusi ke pesantren-pesantren di penjuru negeri. Penerima manfaatnya pun mencapai lebih dari 23 ribu jiwa dengan melibatkan 418 relawan. Jumlah ini pun baru sementara, karena bertepatan dengan Hari Santri Nasional 2020, masih berlangsung pendistribusian beras untuk santri di berbagai daerah.

Danu Putra Anugrah dari Tim Program ACT mengatakan, program BERISI akan terus menemani kebutuhan pangan santri hingga hari-hari ke depan. Namun, hal ini tak akan lepas dari peran dermawan yang menyedekahkan hartanya untuk aksi-aksi kebaikan. “Semua orang bisa ambil bagian dalam aksi kebaikan ini. ACT telah menyediakan laman Indonesia Dermawan sebagai medium kemudahan bersedekah,” ajak Danu, Kamis (22/10).[]