Setahun Pascagempa Lombok

Setahun sudah gempa bermagnitudo 7 pada awal Agustus 2018 mengguncang Lombok dan sekitarnya. Kini, Lombok mulai meniti kembali kehidupan agar pulih seperti sebelumnya.

Setahun Pascagempa Lombok' photo

ACTNews, LOMBOK Setahun silam, tepatnya pada 5 Agustus 2018, gempa bermagnitudo 7 mengguncang Pulau Lombok hingga terasa sampai Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pusat gempa berada di lautan. Sempat ada peringatan tsunami bagi warga pesisir laut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada September 2018 lalu menerbitkan rekapitulasi data. Disebut, 564 orang dinyatakan meninggal dunia, sebagian besar atau 467 orang merupakan warga Kabupaten Lombok Utara yang lokasinya tak jauh dari pusat gempa. Sementara sisanya tersebar di Lombok Barat, Timur, Tengah, Mataram, Sumbawa dan Sumbawa Barat.

Korban yang meninggal dunia sebagian besar karena tertimpa bangunan. Mereka tidak sempat menyelamatkan diri karena gempa berlangsung cepat. Sedangkan sebagian lain ada yang meninggal dunia akibat panik dan berdesakan hingga terjadi kecelakaan saat mengevakuasi diri.

Selain memakan ratusan korban jiwa, tercatat pula 1.584 orang luka-luka, dan lebih dari 83 rumah rusak. Fasilitas umum meliputi 1.194 bangunan sekolah, 321 fasilitas kesehatan, dan 1098 rumah ibadah rusak akibat getaran gempa. BNPB juga menaksir kerugian mencapai lebih dari 12 triliun rupiah.

Lombok–yang terkenal dengan pantai dan wisata Gunung Rinjaninya–saat gempa datang mendadak sepi, seakan menjadi tempat yang ditakuti untuk dikunjungi.

Bencana gempa itu kini telah setahun berlalu. Berbagai elemen bangsa bahu-membahu membangun dan memulihkan Lombok kembali. Setahun berganti, Lombok mencoba bangkit serta membenahi diri untuk melupakan bencana yang pernah terjadi.


Proses evakuasi warga yang terjebak reruntuhan Masjid Jabal Nur. Desa Lading-lLding, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Evakuasi ini melibatkan tim pertolongan dan penyelamatan gabungan dari berbagai unsur.

Pembangunan kembali pascabencana masih berlangsung di Lombok hingga saat ini. Suasana berbeda mulai terasa jika mengunjungi Lombok setelah satu tahun gempa. Tak lagi ditemukan tenda pengungsian di tepian jalan serta gang. Lapangan tempat berdiri tenda kini mulai ditinggalkan, serta bangunan yang runtuh kini mulai dibangun ulang.

Pembangunan ulang bangunan yang runtuh kerap menjadi kekhawatiran. Pasalnya, belum diketahui apakah masyarakat masih menggunakan struktur bangunan yang sama atau yang tahan gempa. Sejumlah pakar kegempaan dan instansi pemerintah mengimbau untuk membangun bangunan tahan gempa bagi masyarakat atau instansi yang tinggal di wilayah rawan gempa. BMKG dalam situsnya pun telah membuat halaman khusus tentang antisipasi gempa bumi dengan memperhatikan struktur bangunan. Hal ini dilakukan mengingat Indonesia menjadi negara dengan ancaman bencana alam yang cukup tinggi.

Dalam peta bencana Indonesia, Lombok tak luput dari ancaman gempa bumi. Keniscayaan bagi masyarakat Indonesia, termasuk warga Lombok, hidup di bawah ancaman gempa yang masih mungkin terjadi di kemudian hari. Runtuhnya Masjid Jabal Nur, atau bangunan lain dapat memberi kenangan, wawasan serta teguran ke masyarakat agar dapat mengubah pola hidup menyesuaikan keadaan alam.

Membangun kembali

Berselang dua bulan, gempa serupa di Lombok, terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, bahkan kekuatannya lebih besar hingga membangkitkan tsunami yang menerjang pesisir Teluk Palu. Ribuan orang dilaporkan meninggal dunia, ratusan dinyatakan hilang, juga permukiman dan desa-desa yang mengalami kehancuran.

Perhatian publik seketika seakan berpindah ke Sulteng, walau Lombok masih membutuhkan bantuan. Banyak pihak yang kemudian konsentrasi ke Sulteng, walau tak sedikit juga yang sambil mengawal Lombok. Aksi Cepat Tanggap (ACT) salah satunya.


Masjid Al-Amin di Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara ysng mengalami kerusakan pascagempa. Bangunan utama masjid ini mengalami kerusakan parah, hingga perlu pembangunan ulang.