Siang Bertani, Malam Berdagang: Kisah Brohim Perjuangkan Nafkah Keluarga

Bertani di siang hari, berdagang di malam hari. Brohim telah melakoni ini selama 15 tahun. Berbagai kendala ia alami, khususnya saat pandemi seperti sekarang. Ia berharap usahanya kembali lancar, didukung dengan gerobak yang ia damba untuk menunjang niaganya.

Brohim (53) sedang mencabuti rumput liar di lahan tanaman kangkung miliknya. Ia menyewa lahan tersebut sebesar Rp3 juta per tahun untuk digunakan bertani yang hasilnya ia jual di pasar. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN BEKASI - Dampak pandemi Covid-19 yang terjadi ternyata juga dirasakan oleh sebagian besar pedagang kecil di pelosok Bekasi. Meski jarak yang cukup jauh dengan pusat kota, para pedagang sayuran tak luput dari hantaman. 

Sebagian dari mereka harus menyiasati pendapatan dengan menekuni beragam pekerjaan. Semua demi bisa menghidupi anak dan istri di rumah yang penuh pengharapan. 

Hari makin terik, Brohim (53) masih terus mencabuti satu per satu rerumputan liar yang tumbuh di lahan miliknya. Tanpa kenal lelah, sudah lebih dari 15 tahun ia geluti aktivitas tersebut sedari pagi hingga siang hari. 

Sementara di malam harinya, pria yang tinggal di Kampung Babakan, Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi ini berjualan di Pasar Babelan, Bekasi sedari pukul 12 malam hingga 6 pagi. Untuk menghidupi keluarga, Brohim mengandalkan bertani dan berdagang sebagai mata pencaharian utamanya.

“Saya tani sambil dagang juga. Jadi hasil tani kita langsung bawa ke pasar pakai motor doyok, jadi boleh ngebon sendiri. Udah ada sekitar 15 tahunan,” terang Brohim, kepada ACT News. 

Sayuran yang dijual Brohim adalah kangkung dan terong. “Saya bawa ke pasar karena di rumah enggak ada tengkulaknya jadi enggak ada yang beli,” tuturnya. 

Jarak dari rumah ke Pasar Babelan berkisar 30 menit. Biasanya, dari hasil berjualan sayuran ia mengantongi penghasilan sehari-hari sebesar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Brohim mengaku, penghasilan itu terkadang tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan sehari untuk ia, istri, dan kedua anaknya yang masih dalam tanggungan. 

“Buat makan sehari-hari kadang cukup kadang kagak soalnya terutama bakal ongkos anak juga ke sekolah, buat beras, belanja, pas banget lah, dicukupin saja,” kata Brohim. 

Brohim berharap punya gerobak yang bisa menunjang usahanya berdagang sayur. (ACTNews/Reza Mardhani)

Ia pun mengaku, sejak pandemi terjadi, pasar menjadi sepi karena minat pembeli untuk belanja ke pasar berkurang. Alhasil, sering kali sayuran yang tidak laku ia tinggalkan di pasar. “Kalau sepi ya tinggal saja, enggak bisa jadi uang. Jadi kadang saya nguli juga buat cari tambahan,” sambung Brohim. 

Kini ia berharap agar kondisi ekonomi semakin membaik, sehingga ia bisa berjualan dengan normal di pasar. Sebab, di tengah keterbatasan ekonomi ia mesti membiayai kehidupan keluarga serta memiliki tanggungan untuk membiayai lahan yang ia sewa untuk bercocok tanam. 

“Iya soalnya saya sewa lahannya kurang lebih ada satu hektare. Saya bayar Rp3 juta setahun, bayarnya kalau sudah ada hasil dari jualan dan tani saja, jadi belakangan. Ketika ada hasil baru bayar ke yang punya sawah, kalau ada sisa baru kita pakai untuk kebutuhan lain,” ujarnya. 

Selain digunakan untuk bercocok tanam, lahan tersebut juga digunakan untuk menanam padi ketika musim panen menjelang. Meski begitu, ia terkadang harus terkendala dengan modal untuk menanam benih. “Saya cari pinjaman ke tetangga, habis mau bagaimana karena pas-pasan juga,” kata Brohim. 

Brohim pun sangat mendambakan memiliki gerobak yang bisa digunakan untuk menunjang aktivitas berniaganya. “Harapannya ke depan mau gitu punya gerobak yang agak besar, sudah lama sebenarnya punya niat ke situ tapi ya memang belum tercapai. Yang penting kita doa sama usaha saja, supaya anak-anak juga lancar sekolahnya ketemu jalannya, dan saya juga yang tani bisa semakin mapan,” pungkas Brohim. 

Untuk mendukung hal tersebut, Global Wakaf-ACT akan menyalurkan bantuan Wakaf UMKM untuk memberikan manfaat produktif bagi para pelaku UMKM, khususnya di sektor produsen pangan. 

“Salah satu turunan programnya adalah Wakaf Gerobak untuk para pedagang atau pelaku usaha UMKM. Pertengahan Januari lalu, 10 Gerobak Wakaf sudah kami salurkan untuk pedagang kecil di Bogor. Saat ini kami juga tengah memproduksi gerobak-gerobak untuk menjangkau lebih banyak lagi pedagang kecil yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usahanya di masa pandemi ini, seperti Pak Brohim,” ujar Wahyu Nur Alim dari tim Global Wakaf-ACT, Jumat (29/1/2021). []