Sinyal Kebangkitan Pertanian Cibadak

Ada ratusan petani di Desa Cibadak, Tanjungsari, Kabupaten Bogor yang mengais rezeki dari hasil tanam. Kini, mereka sedang mencoba bangkit menuju pertanian yang lebih baik.

Sinyal Kebangkitan Pertanian Cibadak' photo
Mulyani sedang membajak petak sawah milik keluarganya. Menjadi buruh bajak sawah dilakukannya untuk menambah pendapatan. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BOGOR Sejak pukul 6 pagi, Mulyani, petani yang menggarap sawah di Desa Cibadak, Tanjungsari, Kabupaten Bogor sudah sibuk dengan traktornya. Ia membajak tanah yang bakal ditanami padi pada akhir November nanti. Sambil ditemani anak keduanya yang baru saja lulus sekolah menengah kejuruan, Mulyani membajak sampai belasan petak hingga sore menjelang. Lumpur dan terik matahari seakan telah menjadi teman akrabnya.

Lahan sawah yang dibajak Mulyani bukanlah miliknya sendiri, tapi juga milik orang lain yang masih ada ikatan persaudaraan. Sawah miliknya sendiri luasnya hanya ratusan meter persegi saja. Sedangkan dengan menjadi buruh pembajak sawah, ia akan mendapatkan upah tambahan.

“Ini sawah masih punya keluarga juga, jadi ya buruh bajak gitu. Lumayan buat tambahan uang,” ungkap bapak empat orang anak ini, Kamis (12/11).

Bagi Mulyani dan petani lainnya, ukuran lahan menjadi penentu berapa pendapatan yang bisa dikantongi tiap kali panen. Untuk petani yang hanya memiliki sawah dengan luas sekitar 600 meter persegi ke bawah, biasanya mereka akan mencari pekerjaan sampingan. Di Cibadak sendiri, petani memilih menjadi buruh bangunan, buruh tani, pekerja di penggilingan padi, hingga berdagang sebagai sampingannya.

“Buat petani yang punya lahan enggak seberapa luas, mereka cari pekerjaan lain. Karena kalau mengandalkan tandur saja mungkin ada beberapa keperluan keluarga yang enggak bisa tercukupi,” ungkap Hendrik dari Gabungan Kelompok Tani Subur Hasil Tani yang menaungi sekitar 300 petani di Desa Cibadak.


Salah satu kampung di Desa Cobadak, Tanjungsari, Bogor yang dikelilingi persawahan serta bukit. (ACTNews/Eko Ramdani)

Untuk lahan pertanian yang ukurannya sekitar 500 meter persegi saja, Hendrik menuturkan, sejak awal tanam sampai panen butuh biaya Rp7 juta - Rp8 juta. Jumlah tersebut, biasanya petani mencari pinjaman karena mereka tidak mampu. Pada proses pinjam-meminjam inilah yang terkadang membuat pendapatan petani dari hasil panennya kurang maksimal. Hal ini mengingat petani memiliki keterikatan hutang dengan peminjam modal yang biasanya merupakan tengkulak.


Harapan kebangkitan

Kepada ACTNews, Hendrik menuturkan, petani di Cibadak tidak sedikit yang kondisi ekonominya masih prasejahtera. Namun, rumah serta lahan sawah yang dimiliki sudah atas nama sendiri atau warisan dari orang tua walau tak seberapa luas. Sehingga, petani telah memiliki modal lahan, tinggal mereka mencari untuk modal tanamnya saja.

Terhitung sejak beberapa bulan lalu, Global Wakaf - ACT melalui program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI) telah menggelontorkan dana wakaf masyarakat untuk pendampingan ke petani di Cibadak melalui Gapoktan Subur Hasil Tani. Di tahap awal, ada 60 petani yang mendapatkan akses permodalan tanpa bunga sebagai dukungan masa tanam. Selain itu, Global Wakaf - ACT telah menyerap hasil panen petani Cibadak dengan harga yang lebih tinggi dibanding pasaran.

“Alhamdulillah beberapa bulan lalu ACT membeli beras petani Cibadak dengan harga yang lebih tinggi. Jika harga normal, di pasar, beras dari Cibadak harganya sekitar 9.500-9.750 (rupiah) per kilogramnya. Tapi ACT membeli dengan harga sampai 10.500 per kilo,” ungkap Hendrik.

Ke depannya, pendampingan dalam bentuk dukungan modal untuk petani akan terus dilakukan Global Wakaf-ACT, begitu juga dengan penyerapan hasil panen petani. Semua aksi kebaikan ini pun tidak pernah lepas dari peran dermawan yang menyalurkan wakaf, zakat hingga sedekahnya melalui ACT. Jajang Fadli selaku Koordinator Program MPPI mengatakan, masyarakat masih bisa ikut ambil bagian untuk para produsen pangan ini dengan bersedekah melalui laman Indonesia Dermawan. “Semua perjuangan kita sangat dinanti dan berharga untuk para petani yang menjadi tulang punggung penopang pangan kita semua,” ungkap Jajang, Rabu (18/11).[]