Siswa di Pulau Tegal Lampung Tak Punya Perlengkapan Sekolah Layak

“Kalau nulis, tulisannya dibuat kecil-kecil supaya kertasnya hemat,” ujar salah satu siswa SD di Pulau Tegal, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Di balik suasana belajar yang menyenangkan, siswa di sana membutuhkan perhatian dalam bidang pendidikan.

Kunjungan Aksi Cepat Tanggap Lampung ke SD di Pulau Tegal pertengahan Desember 2020. (ACTNews)

ACTNews, PESAWARAN Desir ombak dan tiupan angin yang menggoyang dahan kelapa bersautan dengan suara anak-anak yang mengeja huruf demi huruf. Begitulah suasana belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pesona Pulau Tegal, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Namun, di balik suasana belajar yang menyenangkan, siswa di sana membutuhkan perhatian dalam bidang pendidikan.

Hidup di daratan seluas 113 hektare yang dikelilingi lautan, membuat anak-anak Pulau Tegal kesulitan mengakses fasilitas di luar pulau. Termasuk membeli perlengkapan sekolah layak. Sarana transportasi di pulau itu hanya mengandalkan perahu milik nelayan.

“Sebagian siswa menggunakan sepatu usang, bahkan ada yang nyeker karena sepatunya sudah robek. Mereka juga harus berhemat dalam perlengkapan sekolah yang lain. Terkadang antarsiswa berbagi pensil dan buku. ‘Kalau nulis, tulisannya dibuat kecil-kecil supaya kertasnya hemat’ cerita salah satu siswa,” ungkap Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap Lampung Dian Eka Darma Wahyuni, Kamis (17/12). Dua hari lalu, Dian dan tim ACT Lampung baru saja kembali mengunjungi Pulau Tegal.


Suasana belajar di SD PKBM Pesona Pulau Tegal pertengahan Desember. (ACTNews)

Kondisi pendidikan anak-anak di Pulau Tegal selama pandemi ternyata lebih memprihatinkan, kata Dian. Kini anak-anak semakin kesulitan mendapatkan perlengkapan belajar karena orang tua mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

“Mata pencaharian orang tua semakin minim. Sebelum pandemi, kompleks lain di Pulau Tegal merupakan lokasi pariwisata yang ramai pengunjung. Namun kini menjadi sangat sepi. Alhasil, orang tua yang biasa bekerja sebagai pengantar turis lokal tidak lagi mendapat penghasilan. Usaha makanan dan pernak-pernik juga mandek,” lanjut Dian. 

Anak-anak di Pulau Tegal belajar dalam lembaga yang dibentuk oleh masyaraka yang masih berada di bawah pengawasan dan bimbingan dari Dinas Pendidikan. Kurang lebih, enam orang guru diperbantukan untuk mengajar di Pulau Tegal. Mereka pun digaji dengan uang sumbangan masyarakat. Sekali mengajar, para guru relawan ini harus menyebrang dengan perahu guna menuju pulau.

Menurut Dian, anak-anak tepian negeri ini mempunyai semangat dan asa yang tak terhingga. Bahkan, dalam keterbatasan sarana pendidikan, mereka tetap menjalani kegiatan belajar mengajar dengan bahagia. Dian berharap, para dermawan bisa mendukung anak-anak di Pulau Tegal memperoleh pendidikan yang layak, dari akses informasi, dukungan untuk guru, hingga perlengkapan sekolah. Sahabat Dermawan bisa menghubungi ACT Lampung untuk memberikan bantuan terbaik.

“Kedermawanan sahabat amat tak terhingga untuk segenap pendidik dan siswa di Pulau Tegal. Mari sama-sama kita perjuangkan pendidikan di tepian negeri, sebab pendidikan adalah hak setiap warga negara,” pungkas Dian.[]