Siswa Halmahera Selatan Tidak Lagi Punya Sekolah

Siswa-siswi di Kecamatan Kepulauan Joronga, Halmahera Selatan tidak dapat menikmati tahun ajaran baru dengan maksimal kali ini. Pasalnya, bangunan sekolah mereka roboh akibat gempa. Sudah dua pekan berlalu, dengan sangat terpaksa, kegiatan belajar-mengajar pun ditiadakan.

Siswa Halmahera Selatan Tidak Lagi Punya Sekolah' photo

ACTNews, HALMAHERA SELATAN – Yahya Husein menunjukkan ruangan-ruangan sekolah yang roboh akibat gempa. Kepala Sekolah SD Negeri 235 Halmahera Selatan itu menjelaskan fungsi ruang-ruang yang telah hancur itu. “Ada lima lokal, satu gedung perpustakaan dan gedung kantor, semua lokal (ruangan) runtuh dan tidak layak dipakai,” kata Yahya membuka cerita, Selasa (23/7).

SDN 235 Halmahera Selatan, sebelumnya bernama SD Inpres Kurunga, saat ini didominasi puing reruntuhan, bangunan yang ada pun tidak lagi kokoh. Sebagai kepala sekolah, Yahya berharap bantuan segera datang agar kegiatan belajar dan mengajar kembali berjalan. Ia pun memohon bantuan berbagai pihak untuk membantu pembangunan kembali SD Negeri 235 Halmahera Selatan yang berada di Desa Kurunga, Kecamatan Kepulauan Joronga, Halmahera Selatan itu.

“Sudah satu-dua pekan lebih anak-anak tidak bersekolah lagi karena semua gedung di desa ini tidak ada yang utuh. Sehingga, tempat untuk anak-anak bersekolah tidak ada,” ungkap Yahya.

Ia juga berharap pemerintah daerah segera membuatkan sekolah darurat untuk para siswa. “Saat ini ada 145 orang siswa dari kelas satu sampai enam yang tidak belajar,” lanjut Yahya. Hingga kini, Yahya dan enam orang pengajar SDN 235 Halmahera Selatan masih mengupayakan yang terbaik untuk anak didik mereka.


Sandri Sukedih, siswa kelas enam di sekolah tersebut, mengungkapkan kesedihannya. Sudah hampir dua minggu, bocah sebelas tahun itu tidak belajar dan bertemu teman-temannya di sekolah.

“Saat ini sekolah sedang roboh karena gempa. Saat ini torang butuh orang-orang pebantuan bangun sekolah torang. Sekolah ini su roboh sekali tidak bisa dipakai lagi,” cerita Sandri.

Sandri mengaku amat rindu belajar di sekolah. “Sudah dua minggu kita tidak sekolah,” imbuhnya. Hingga saat ini, belum ada kepastian terkait pendidikan siswa di Halmahera Selatan yang tidak lagi memiliki bangunan sekolah. []

Bagikan