Siswa Kepulauan Kota Batam Menanti Kemudahan Transportasi ke Sekolah

Setelah mendayung sampan di tengah lautan, anak-anak di kepulauan Kota Batam harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menuju sekolah. Tidak ada transportasi khusus yang bisa mengantar mereka tiba di sekolah dengan nyaman.

Anak-anak dari sejumlah pulau di Kota Batam tiba di dermaga Pulau Ngenang, yang masih termasuk wilayah administrasi kota Batam. Dari berbagai pulau kecil, hanya di Pulau Ngenang tersedia fasilitas pendidikan. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BATAM – Dari tahun ke tahun, Kota Batam mengalami perkembangan pesat. Bak Jakarta, jalan utama terbentang lebar. Begitu juga gedung-gedung pencakar langit yang kian bermunculan. Perekonomian berkembang pesat karena berlokasi strategis, tidak jauh dari negera tetangga. Dibanding Tanjungpinang yang menjadi ibu kota provinsi, Batam cukup lebih terkenal.

Secara wilayah, Kota Batam terdiri atas beberapa pulau besar dan ratusan pulau kecil. Sejumlah pulau ada yang terhubung dengan jembatan. Selain mobil dan motor, perahu juga menjadi kendaraan utama bagi warga kepulauan.

Namun, di samping gemerlapnya Pulau Batam, tidak semua warga Batam bisa menikmati kemajuan yang tengah terjadi. Seperti yang dirasakan warga di pulau-pulau kecil Batam.

Di pertengahan Maret lalu, ACTNews berkesempatan bermalam di Pulau Selat Desa, Kelurahan Ngenang, Nongsa, masih masuk administrasi Kota Batam. Jauh berbeda dengan suasana Pulau Batam, listrik di Selat Desa bersumber dari diesel yang hanya menyala pukul 18.00-22.00 WIB. Padahal, pulau tersebut menjadi lintasan saluran udara tegangan ekstra tinggi yang menghantarkan listrik untuk Batam dan Bintan.

Selain listrik, fasilitas umum juga minim. Tidak ada masjid besar seperti di Pulau Batam, di Pulau Selat Desa, hanya berdiri musala kecil dengan panel surya-yang menyuplai listrik untuk penerangan, pengeras suara serta mesin air. Sekolah formal pun tidak ada di Selat Desa. Anak-anak perlu menyeberangi selat menuju sekolah terdekat.

“TK, SD sama SMP ada di seberang (Pulau Ngenang). Kalau SMA lebih jauh lagi. Anak-anak setiap pagi pakai sampan, yang sudah besar mendayung sendiri, yang masih kecil diantar orang tua. Enggak ada perahu yang khusus untuk antar jemput anak-anak,” jelas Ari Anggara, pendakwah di Selat Desa, Senin (22/3/2021).

Untuk menunuju pulau Ngenang, para siswa dari Pulau Selat Desa menggunakan sampan. Berbeda dengan siswa yang berasal dari pulau yang pulau tempat tinggalnya lebih jauh, mereka menggunakan perahu umum yang beroperasi antarpulau.


Ferdi (kanan), anak Selat Desa yang mendayung sampannya menuju Pulau Ngenang untuk bersekolah. Tiap kali berangkat dan pulang, ia menyeberangi selat pemisah daratan tempatnya tinggal dan sekolah. (ACTNews/Eko Ramdani)

Berharap ada perahu pendidikan

Di kepulauan kecil di Kota Batam, para orang tua telah sadar tentang betapa penting pendidikan. Mereka, berasal dari Suku Laut yang hidup di perahu, menginginkan anak-anaknya bisa menempuh pendidikan formal dengan baik. Muhammad Nadi salah satunya. Suku Laut yang memutuskan tinggal di daratan Pulau Selat Desa ini begitu ingin anaknya bisa bersekolah, tidak seperti dirinya.

“Saya ini tidak sekolah, namun saya sangat ingin anak-anak bisa bersekolah sampai tingkat yang paling tingg,” harap Nadi, Senin (22/3/2021).

Sayang, harapan Nadi masih terganjal  ketiadaan transportasi khusus untuk pendidikan. Keadaan ini membuat aktivitas siswa tidak terlalu efektif dan menempuh perjalanan jauh.

Saat ini, untuk ke sekolah dasar, anak-anak Nadi, sebagaimana siswa lain dari Pulau Selat Desa, harus mendayung selama 20 menit sebelum tiba di Pulau Ngenang tempat sekolah mereka berada. Setiba di daratan, anak-anak melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan jalan kaki lagi sekitar 300 meter.

Transportasi sekolah amat penting untuk melayani anak-anak di kepulauan. Persoalan kendaraan ini memang sudah lama menjadi keresahan warga.[]