Siswa Trauma Gempa, Kegiatan Belajar Mengajar Absen

Sejumlah bangunan sekolah juga rusak akibat gempa M6,5 yang melanda Maluku Tengah beberapa waktu lalu.

Siswa Trauma Gempa, Kegiatan Belajar Mengajar Absen' photo
SDN 2 Liang yang sudah sekitar dua minggu ini absen dari kegiatan belajar mengajar. (ACTNews/Rahman Gifari)

ACTNews, MALUKU TENGAH - “Kami datang untuk belajar, kami pulang membawa ilmu. Ayo sekolah,” tulisan di tembok depan SDN 2 Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah itu seolah mengajak. Namun ajakan tinggal ajakan. Sekolah itu kini kosong setelah rusak berat diguncang gempa bermagnitudo 6,5 pada Kamis (26/9) lalu.

“Yang jelas semenjak kejadian hingga saat ini, proses belajar mengajar di sekolah ini terhenti. Orang tua murid semuanya trauma untuk memberikan anaknya ke sekolah. Jadi semua hari ini di pengungsian,” kata Sutilapati selaku Kepala Sekolah SDN 2 Liang pada Selasa (8/10) ini.

Tinggal dua ruangan yang dapat dipakai di sekolah itu untuk 98 orang siswa. Kedua ruangan ini kata Sutilapati, tidak bisa dipakai untuk para murid dan guru untuk beraktivitas seperti biasa di sekolah. Sutilapati mengharapkan adanya tempat sementara untuk siswa belajar.

“Sehingga sampai saat ini kami bingung, bagaimana anak-anak ini bisa kembali bersekolah. Jadi sementara kami mengusulkan, sementara pemerintah memberikan tenda-tenda yang mana mungkin bisa kita gunakan di pengungsian, di atas bukit sana, agar aktivitas sekolah dapat berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Senada dengan Sutilapati, Siti Pareha Simoah mengatakan anaknya juga bahkan belum mau masuk sekolah. Ia khawatir dengan kondisi bangunan sekolah yang rusak pascagempa. Oleh karenanya, Siti juga menyarankan ada baiknya kegiatan belajar mengajar dilakukan di pengungsian saja.


Kondisi salah satu bangunan di Salahutu. (ACTNews/Rahman Gifari)

“Kalau dari bangunannya menurut saya, anak-anak itu sudah tidak mau. Mungkin lebih baik pakai tenda saja. Biar di satu tenda, lalu kita sekolah paralel. Kelas satu, dua dan tiga pagi hari, empat lima dan enam siang hari. Tapi jangan di bangunan karena mereka sudah pada takut, maunya duduk di sini (pengungsian) saja,” kata Siti.

Kala gempa terjadi, memang anak-anak sedang berada di sekolah dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Anaknya, kata Siti, masih dapat mengingat kejadian tersebut ketika melihat kedua temannya menderita luka-luka akibat gempa. Sehingga, kini anaknya masih dalam kondisi trauma.

“Bahkan ketika saya sedang berjalan ke dekat sekolahan anak, dia bilang, ‘Mama, jangan  dekat-dekat situ, awas nanti ada dinding roboh,’” Siti menirukan anaknya sembari tertawa.

Akibat gempa M6,5 yang mengguncang Maluku, data dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) per Ahad (6/10) silam mencatat sebanyak 51 sekolah di seluruh daerah terdampak mengalami kerusakan. Sedangkan 135.879 orang masih mengungsi. []

Bagikan