Siti Maryam, Perjalanan Mengabdi dari Bencana ke Bencana

Siti Maryam memilih jadi relawan. Memanfaatkan berkah kekuatan fisik dan mental yang Allah berikan. Relawan asal Sukabumi itu membersama Aksi Cepat Tanggap dan Masyarakat Relawan Indonesia dari bencana ke bencana.

Siti Maryam ketika turut dalam evakuasi korban kecelakaan pesawat Lion Air di Pesisir Karawang 2018 lalu. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA – Hampir tujuh tahun Siti Maryam mendampingi Aksi Cepat Tanggap dalam tim Disaster Emergency Response. Ia adalah relawan “spesialis” kebencanaan. Bukan tanpa alasan, Siti Maryam berbekal ilmu penyelamatan di air atau water rescue bersertifikat.

Panggilan membantu sesama sudah tertanam dalam diri Maryam. Perempuan asal Sukabumi itu berprinsip membantu sesama kalau tidak bisa dari materi, bisa membantu dari tenaga.

Ia pun mendampingi ACT dari bencana ke bencana, tidak terlepas dari bencana gempa di Lombok, bencana tsunami, gempa, dan likuefaksi di Palu, evakuasi korban kecelakaan pesawat Lion air di Karawang, longsor di Cisolok, hingga yang terbaru banjir di Sukabumi September 2020.

Citra tangguh disematkan kepada Maryam. Fisik dan mentalnya pun dikenal kuat. “Saya juga ada rasa takut. Takut kalau tidak mampu menolong orang,” katanya kepada ACTNews saat bertemu Mei lalu. Dengan menjadi relawan, ia pun yakin bisa menjalani hidup lebih bermakna.

Ada satu hal yang masih terus ia ingat, yakni ketika bertugas menjadi tim rescue SAR gabungan evakuasi korban kecelakaan pesawat Lion Air. Tugasnya cukup berat karena Tim SAR menjadi harapan banyak orang. “Tugas kami adalah menemukan jenazah korban. Saat itu ada keluarga-keluarga korban yang sudah menunggu,” aku ibu dua anak itu.

Sehari-hari, Maryam mencari nafkah dengan berjualan daring. Ia juga pernah menjadi satuan pengaman di sebuah perusahaan di Jawa Barat selama tujuh tahun. Dari situ keterampilannya semakin terasah. “Waktu itu di perusahaan membutuhkan security wanita, tesnya banyak, fisik, sejarah, saya juga punya kemampuan karate. Begitulah rezeki relawan, jangan takut tidak makan menjadi relawan,” lanjutnya. Dukungan orang tua dan anak-anak adalah semangat terbesar Maryam saat tugas ke lokasi-lokasi bencana.

Selain bertugas di ranah kebencanaan, sesekali Maryam juga membantu tim Mobile Social Rescue  ACT. Ia menjadi pendamping bagi pasien prasejahtera yang membutuhkan bantuan medis. “Sebisa mungkin kita membantu. Jalani hidup seperti air mengalir,” pungkas Maryam.[]