Siti Zubaidah Pertahankan Jualan Puding untuk Biaya Pengobatan Anak

Penghasilan berkurang, modal usaha Siti Zubaidah sering terpakai untuk biaya berobat sang anak yang mengidap talasemia. Di tengah pendapatan yang tidak jua stabil, Siti berusaha mempertahankan jualan pudingnya.

Siti Zubaidah menyiapkan puding jualannya. Siti berjualan puding untuk membiayai kebutuhan hidup dan pengobatan anak keduanya yang menderita talasemia. (ACTNews)

ACTNews, PANGKAL PINANG — Global Wakaf-ACT kembali hadir untuk membantu seorang ibu pejuang nafkah. Kali ini, Wakaf Modal Usaha Mirko Indonesia berikhtiar mengembangkan usaha Siti Zubaidah (42), soerang ibu penjual puding dari Desa Air Itam, Kecamatan Bukit Intan, Kabupaten Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Kedua anak Siti mengidap talasemia atau kelainan darah. Anak yang pertama telah meninggal dunia sedangkan anak keduanya masih bertahan dengan menerima donor darah setiap bulan.

Untuk biaya berobat sang anak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Siti berjualan puding. Siti menjajakan dagangannya di sekitar wilayah Air Itam. Ia juga menerima pesanan dalam jumlah banyak untuk acara-acara keluarga. Namun, sejak setengah tahun lalu, penghasilan jualan puding Siti anjlok 70 persen. Padahal, menurut Siti, kebutuhan hidup keluarga cenderung naik.

“Biaya berobat anak juga mahal, apalagi pandemi begini, cari pendonor darah susah. Dapat (untung) Rp50 ribu atau Rp100 ribu sudah alhamdulillah,” ujar Siti.

Sebenarnya, Siti bukan satu-satunya pencari nafakah di keluarga. Sang suami sempat bekerja sebagai kuli bangunan. Sejak pandemi, suami Siti tidak lagi dapat panggilan kerja.

“Jadi, cari uang dengan kerja serabutan. Apa pun dikerjakan,” kata warga Air Itam, Bangka Belitung, sembari menyiapkan puding dagangannya, Jumat (26/3/2021). 

Walaupun begitu, Siti pantang putus asa. Ia akan menggunakan modal usaha dari Global Wakaf-ACT untuk memasifkan produknya. “Mungkin kemasannya juga akan diperbaiki, jadi tetap aman kalau dikirim jauh-jauh” ujarnya.

Siti Zubaidah adalah satu dari ribuan pelaku usaha mikro kecil yang terdampak pandemi Covid-19. Di mana menurut data BPS, persentase usaha mikro kecil yang mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi mencapai 84,20 persen. Lalu 7 dari 10 pelaku usaha UMK membutuhkan bantuan modal usaha.[]