Solidaritas yang Erat Menolak Pencaplokan Tepi Barat

Ratusan ribu warga Palestina berunjuk rasa di Gaza pada Rabu (1/7) siang lalu. Demonstrasi ini menentang aneksasi Israel yang akan mencaplok sepertiga Tepi Barat.

Solidaritas yang Erat Menolak Pencaplokan Tepi Barat' photo
Para tokoh Palestina sedang berorasi di atas panggung. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Diperkirakan 200 ribu orang berkumpul di Gaza. Yel-yel penyemangat di tengah kerumunan seolah bersahutan dengan pengeras suara yang memutar lagu-lagu perjuangan Palestina pada Rabu (1/7) siang itu. Ketika musik berhenti, seorang orator dengan lantang berbicara di atas panggung. Audiens menyambut kalimat-kalimat yang keluar dari mulut orator dengan tepuk tangan, beberapa kembali meneriakkan yel-yel sambil membawa poster-poster kecaman terhadap aksi Israel dan tuntutan untuk menghentikan aneksasi.

“Aneksasi ilegal dari Israel adalah eskalasi yang berbahaya,” tulisan dari papan unjuk rasa seorang perempuan. Ia mengangkat tinggi papan tersebut sembari menyanyikan syair perjuangan.

Aksi protes ini merupakan respons terhadap rencana Israel yang hendak menganeksasi Tepi Barat. Dilansir dari Republika, melalui rencana ini Israel dapat mencaplok sepertiga bagian dari Tepi Barat. Wacana yang mencuat, aksi itu tadinya akan dilakukan tepat pada awal Juli kemarin. Tetapi Israel sendiri mengundur tanggal itu karena adanya pandemi.


Anak-anak muda yang turut dalam membersamai perjuangan bangsanya. (ACTNews)

“Kami, warga Palestina  menentang semua rencana Israel untuk menganeksasi bagian mana pun dari Palestina. Dan tugas kami sebagai pemuda untuk membangkitkan kesadaran pada para pemuda lainnya atas langkah yang berbahaya dari Israel ini. Tugas kami juga sebagai pemuda untuk membela para pejuang kami, serta melindunginya dari setiap agresi yang dilakukan Israel,” kata seorang perempuan muda yang memikul bendera Palestina di bahunya.

Dikutip dari BBC Indonesia, bagi bangsa Palestina, aneksasi akan mengerat wilayah mereka dan menyisakan sedikit saja dari wilayah yang sudah berantakan. Mereka akan kehilangan tanah, yang mana sangat penting untuk bisa membentuk negara sendiri kelak.

Sekitar tiga juga orang hidup di penggalan tanah yang disebut Tepi Barat. Sebanyak 86% adalah warga Palestina dan 14% sisanya (427.800 orang) adalah pemukim Israel. Mereka tinggal di kawasan yang umumnya terpisah satu sama lain.


Masih dari sumber yang sama, banyak permukiman Israel dibangun dekade 1970-an, 1980-an dan 1990-an. Namun jumlahnya berlipat ganda 20 tahun belakangan. Israel menyediakan layanan seperti air dan listrik kepada para pemukim, dan mereka dilindungi oleh tentara Israel.

Pemukiman Israel juga tersebar di seluruh wilayah Palestina. Permukiman-permukiman ini dijaga oleh tentara Israel dan tak bisa diakses oleh warga Palestina. Secara efektif, ini memisahkan satu kota Palestina dengan lainnya, yang menyebabkan jalur transportasi dan pembangunan infrastuktur jadi sangat sulit dilakukan.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) turut mendukung perjuangan Palestina terhadap hal-hak mereka yang kini nyaris dirampas. Dalam aksi unjuk rasa di Ansar, ACT menyediakan Ambulans Pre-Hospital di tengah para pengunjuk rasa.


Ambulans Pre-Hospital yang berada di tengah-tengah demonstran. (ACTNews)

“ACT turut mendukung aksi ini dengan menghadirkan armada Ambulans Pre-Hospital demi melayani kesehatan para peserta aksi yang membutuhkan. Hadirnya armada kita ini adalah salah satu wujud kita yang juga menentang pencaplokan wilayah yang dilakukan Israel terhadap Palestina,” kata Said Mukkafiy dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT.

Seorang ibu yang ikut berunjuk rasa berterima kasih atas kepedulian bangsa Indonesia yang ditunjukkan lewat Ambulans Pre-Hospital. “Palestina bangsa yang bersatu, dan semoga kami diberikan kekuatan, ketenangan, rezeki, dan kesehatan. Tidak ada yang membedakan karena kita semua satu. Seluruh tanah Palestina merupakan negara kita. Dengan izin Allah, kita semua akan dipersatukan dan berterima kasih kepada Indonesia telah membersamai kita saat ini,” katanya. []


Bagikan

Terpopuler