Stop Gunakan Sebutan Orang Gila!

Sebagian besar masyarakat di Indonesia kerap kali menyebut Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sebagai “Orang Gila”. Padahal, pandangan ini sangatlah keliru dan cenderung melahirkan stigma terhadap isu kesehatan jiwa.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021
Ilustrasi. Pemasungan terhadap ODGJ (Antara/Sahlan Kurniawan).

ACTNews, JAKARTA – Sebagian besar masyarakat di Indonesia kerap kali menyebut Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sebagai “Orang Gila”, biasanya ini dikaitkan dengan ODGJ yang telantar di jalan tanpa perlindungan dan belas kasih dari orang sekitar. Padahal, pandangan ini sangatlah keliru dan cenderung melahirkan stigma terhadap isu kesehatan jiwa.

Hal ini seperti yang diungkapkan, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Dr. dr. Diah Setia Utami, SpKJ., MARS, yang mana menekankan masyarakat untuk jangan lagi menyebut ODGJ dengan panggilan “Orang Gila”. Baginya ini justru berdampak terhadap pemikiran masyarakat dalam membangun kepedulian dan kebijakan yang ramah terhadap ODGJ.

“Masyarakat atau orang awam selalu melihat ODGJ itu cuma yang gelandangan di jalan, yang terkena gangguan psikotis. Bayangannya selalu seperti itu, padahal tidak begitu. Bahkan saya bisa menyebut kalau 80 persen masyarakat Indonesia mengalami masalah kejiwaan,” ungkap Diah, saat dihubungi ACTNews, Selasa (5/10/2021).

Stigma yang begitu melekat terhadap ODGJ di Indonesia, menurut Diah berakibat pada penolakan yang terjadi, baik dari lingkungan keluarga, pekerjaan, dan masyarakat. Seolah ODGJ dianggap aib bersama yang harus dijauhi dan tidak untuk dipedulikan nasib hidupnya.

“Orang Dengan Gangguan Jiwa selalu dilabeli negatif oleh siapa pun, dianggap hidupnya sudah tutup buku. Itu malah berakibat yang terkena gangguan jiwa merasa hidupnya tidak ada gunanya. Akhirnya akses pengobatan tidak dicari, malah berpikir kalau diobatin ya tetap begini aja kok,” tuturnya.

Adapun Diah menjelaskan, penambahan kasus ODGJ khususnya pada level psikotis terus merangkak naik. Hal ini terlihat dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2018 menunjukkan, pravelensi psikotis di Indonesia sebanyak 6,7 per 1000 rumah tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap psikotis.

Sementara itu, Head of Humanity Medical Services Aksi Cepat Tanggap (ACT) dr. Arini Retno Palupi, mengungkapkan, stigma masyarakat masih sangat tinggi terhadap ODMK dan ODGJ, hal ini menurutnya berdampak pada keengganan keluarga dalam menempuh pengobatan ke psikiater dan psikolog.

“Ini tanggung jawab kita bersama untuk terus mengedukasi masyarakat dalam memahami dan merangkul ODMK dan ODGJ. Jangan sampai mereka diasingkan dan dipasung, seolah mereka bisa berbuat kasar, menyakiti, dan menganggap penyakit ini kutukan. Kita tidak boleh menggeneralisir dan membuatnya menjadi stigma,” ungkap Arini, kepada ACTNews, Jumat (8/10/2021).

Arini menegaskan, kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik seorang manusia. Terlebih, Humanity Medical Services ACT akan menghadirkan sebuah layanan kesehatan jiwa, yakni Global Mental Care, yang berfokus pada pemulihan berbasis komunitas untuk membantu ODMK, ODGJ, dan Ketergantungan NAPZA agar bisa kembali pulih dan produktif di masyarakat.[]