Stop Stigma Negatif Gangguan Jiwa

Isu gangguan kesehatan jiwa masih menempati stigma negatif sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal, Kementerian Kesehatan pada 2018 menyatakan gangguan depresi sudah mulai terjadi sejak rentang usia remaja (15-24 tahun).

Stop gangguan jiwa
Ilustrasi. Seorang pasien di panti rehabilitasi gangguan jiwa, Yayasan Galuh, Rawa Lumbu, Kota Bekasi sedang berjalan melintas.

ACTNews, JAKARTA – Isu kesehatan jiwa masih menjadi stigma negatif sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini. Padahal isu ini menjadi permasalahan kesehatan serius yang kasusnya terus merangkak naik. Hal ini terlihat dari Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2018 menyatakan gangguan depresi sudah mulai terjadi sejak rentang usia remaja (15-24 tahun), dengan prevalensi 6,2 persen. Pola prevalensi depresi semakin meningkat seiring dengan peningkatan usia, tertinggi pada umur 75 tahun ke atas sebesar 8,9 persen, 65-74 tahun sebesar 8,0 persen, dan 55-64 tahun sebesar 6,5 persen.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan pada 2017 merilis perhitungan beban penyakit gangguan jiwa yang dialami oleh penduduk Indonesia diantaranya gangguan depresi, cemas, skizofrenia, bipolar, gangguan perilaku, autis, gangguan perilaku makan, cacat intelektual, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Dr. Riati Sri Hartini, Sp.KJ, M.Sc, menjelaskan, gangguan jiwa memiliki spektrum yang luas dan bervariasi, mulai dari ringan, sedang, sampai berat. Ibaratnya fisik dan psikis seperti dua sisi mata uang, ketika fisik bisa terganggu pasti psikis ikut juga terganggu.

“Saat kita bicara gangguan jiwa itu penyebabnya kompleks, kita melihat manusia secara utuh.Ada orang yang tidak biasa mengekspresikan emosi akhirnya dia menumpuk emosinya. Nantinya itu bermanifestasi menjadi gangguan jiwa. Jadi caranya itu belajar merilis emosi agar tidak menumpuk (emosinya),” ungkapnya saat dihubungi ACTNews Rabu (25/8/2021).

Saat menangani orang dengan gangguan jiwa, dr. Riati menekankan pentingnya pendekatan semua lini, baik dari sisi biologis, psikis, sosial maupun spiritual. “Misal kalau dari sisi sosial itu perlunya dukungan dari orang-orang disekitarnya. Manusia sebagai makhluk sosial itu tetap membutuhkan sosialisasi. Minimal dengan orang orang terdekat di keluarga agar kita tidak merasa sendirian,” lanjutnya.

Dr. Riati menekankan pentingnya masyarakat Indonesia untuk menghentikan stigma negatif kepada masalah gangguan kejiwaan. Jika seseorang memiliki gejala cemas, halusinasi, anxiety, atau gangguan tidur, dan merasa tidak nyaman jangan mendiagnosis diri sendiri.

“Stigma masih kental sekali ketika masyarakat berobat ke psikiater. Justru sebetulnya dengan mendeteksi dini bisa mendapatkan pengobatan yang lebih bagus,” ungkapnya. Ia pun menyarankan agar masyarakat yang membutuhkan pertolongan profesional menemui ahli agar menemukan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat.[]