Suami Tertembak, Shereen Jalani Hidup Serba Kekurangan

Sungguh miris kehidupan yang harus dijalani oleh keluarga Shereen. Ekonomi yang terpuruk di Palestina dan kurangnya lapangan kerja membuat Shereen tak bisa mendapatkan pekerjaan.

Shereen bersama kedua anaknya Mayar(4) dan Lamar (2). (ACTNews)

ACTNews, GAZA - Shereen Khalial Rabaa, warga Jabalia, Palestina, bersama dua anaknya, Mayar (4) dan Lamar (2) mesti menjalani hidup tanpa kepala keluarga. Ayah Mayar ditembak tentara Israel pada 2018 saat kembali dari aksi demonstrasi di Masjid Al-Aqsa. 

Sungguh miris kehidupan yang harus dijalani oleh keluarga ini. Ekonomi yang terpuruk di Palestina dan kurangnya lapangan kerja membuat Shereen tak bisa mendapatkan pekerjaan. Hingga kini, ia mengandalkan kedermawanan masyarakat untuk membantu kebutuhan harian keluarganya.

“Saya hanya ibu rumah tangga yang tidak bekerja, sehingga tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi susu dan popok maupun kebutuhan sehari-hari lainnya,” ujar Shereen.

Setiap bulan, rata-rata keluarga di Palestina membutuhkan biaya sekitar 4-5 juta rupiah untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan untuk anak-anak. Dengan bantuan ini diharapkan keluarga Palestina yang masih dalam cengkraman konflik bisa hidup sejahtera dan bahagia. 

Bantu Keluarga Shereen melalui program Sister Family Indonesia-Palestina

Untuk membantu Shereen dan kedua anaknya, dermawan Indonesia bisa menyumbang dana berapapun hingga 5 juta rupiah di kampanye Sister Family Palestine-Indonesia. Nantinya dana ini akan disalurkan langsung ke keluarga Shereen melalui perwakilan ACT di Jabalia. 

Program ini bertujuan untuk menghubungkan keluarga Indonesia dan keluarga Palestina. Nantinya, dana yang diberikan  akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, dan pendidikan untuk Mayar dan Lamar.

 

Andi Noor Faradiba selaku Senior Manager Global Humanity Response - ACT, saat pembukaan program Sister Family Palestine-Indonesia 5 Februari lalu berujar, nantinya interaksi antarkeluarga tersebut, juga bisa dilakukan via online, seperti video call, Whatsapp, sehingga kedua keluarga bisa saling mengenal.

“Program ini memang sangat bersifat pengikatan emosional. Kita sandingkan memang keluarga ke keluarga,” ujar Andi Nur Faradiba.[]