Suasana Hangat Selimuti Buka Puasa Bersama di ICS

Satu minggu lamanya para penyintas banjir bandang di Lebak telah menghuni Integrated Community Shelter (ICS) dan menjalani puasa pertama mereka di sana.

Suasana Hangat Selimuti Buka Puasa Bersama di ICS' photo
Seorang anak sedang menikmati penganan iftar di ICS. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, LEBAK – Magrib berkumandang. Segelas es buah, beberapa potong gorengan dan pastel hangat, serta sebuah kue bugis tersaji di hadapan warga. Makanan berat menyusul kemudian. Mereka menikmati kebersamaan itu, meskipun mereka berada di kondisi yang sulit. Rumah mereka rusak bahkan sebagian hanyut total akibat banjir awal tahun lalu dan kini mereka mesti mengungsi ke Hunian Nyaman Terpadu Integrated Community Shelter (ICS).

Setelah menunggu sekitar satu bulan lebih, hunian sementara itu selesai dibangun tepat di samping sebuah danau di Kampung Cekdam, Desa Sukarame. Dari 60 unit hunian, sebanyak 52 unit telah dihuni oleh warga beberapa hari sebelum masuknya bulan Ramadan. Pada Senin (27/4) kemarin, Aksi Cepat Tanggap meresmikan bangunan itu serta mengadakan buka puasa bersama dengan warga.

Salah satu warga, Sabrowi, merasa senang dengan adanya buka puasa bersama ini. Selain sebagai ajang silaturahmi, laki-laki berusia 70 tahun ini juga mendapatkan makanan gratis, sehingga tak perlu memasak lagi.

“Biasanya bapak masak sendiri. Dengan adanya buka puasa ini, alhamdulillah bisa kumpul-kumpul, buka puasa bersama. Bapak juga kan tidak perlu masak lagi,” kata Sabrowi.


Pejabat setempat sedang memberikan sambutan kepada warga dalam acara peresmian ICS dan buka puasa bersama. (ACTNews/Reza Mardhani)

Rumah Sabrowi sendiri rusak parah akibat banjir bandang. Barang-barangnya tak ada yang terselamatkan sama sekali kala banjir terjadi. “Saya berterima kasih sebanyak-banyaknya. Apa yang saya butuhkan sekarang ada,” ucap Sabrowi.

Meskipun begitu, rasa sedih tetap ada. Siti Komalasari misalnya. Ia terbantu dengan hadirnya ICS, tapi Ramadan tahun ini tentu lebih berat karena untuk pertama kalinya tak ia lalui di rumah. Ia juga menjalani awal Ramadan tahun ini hanya bersama anak-anaknya karena suaminya yang bekerja di Tangerang tak dapat pulang akibat pandemi corona.

“Kalau tahun kemarin kita kan (melewati Ramadan) di tempat sendiri. Walaupun sederhana, ya istilahnya tapi rumah sendiri. Kalau sekarang ya, beginilah keadaannya. Senyaman-nyamannya rumah kan rumah sendiri,” kata Siti.


Tak lama setelah azan dan menandaskan kudapan, warga kemudian bergegas. Ada yang langsung pulang, tapi sebagian besar laki-laki mengambil wudunya untuk salat berjamaah. Pertama kalinya masjid ICS ini digunakan warga untuk aktivitas bersama.

Dwiko Hadi Dastriyadi selaku Direktur Program ACT menyampaikan, pembangunan ICS merupakan tahap selanjutnya dari bantuan-bantuan yang diberikan oleh ACT. Tahap selanjutnya, ACT berencana memberdayakan masyarakat yang berada di ICS.

“Pada tahap awal lalu, ACT memfokuskan pada pemberian logistik, baik berupa paket sembako, makanan siap saji, dan juga dapur umum sebagai langkah-langkah awal yang kami lakukan. Tahap kedua adalah pembangunan hunian nyaman terpadu atau ICS yang saat ini telah dibangun di Lebak, dan yang ketiga adalah pengembangan ekonomi,” kata Dwiko.

Bangunan ICS dapat bertahan hingga 5 tahun ke depan. Warga masih berharap dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan, mereka dapat membangun rumahnya. Jika warga berhasil membangun rumah kembali, ACT berencana menyerahkan ICS tersebut sebagai aset desa untuk pengembangan pariwisata sanau di Kampung Cekdam.

“Kebetulan warga ada juga yang terdampak perluasan Waduk Karian. Ketika ada uang penggantian (dari pemerintah), mereka berharap bisa membangun rumah mereka kembali. Maka aset dari ICS ini akan menjadi aset desa untuk dioptimalkan menjadi tempat wisata,” ujar Dwiko. []


Bagikan