Subsidi Dihapus, Pengungsi di Lebanon Tersiksa Harga Pangan Tinggi

Lebanon resmi menghapus seluruh subsidi bahan bakarnya. Menyebabkan kenaikan harga berbagai komoditas, termasuk pangan, menjadi semakin tinggi. Pengungsi Palestina dan Suriah di sana pun turut merasakan dampak.

krisis bahan bakar lebanon
Ilustrasi. Potret keluarga pengungsi Palestina di Lebanon. (ACTNews)

ACTNews, LEBANON – Pihak berwenang Lebanon resmi mengakhiri subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) pada Rabu (20/10/2021). Hal ini membuat harga bahan bakar seukuran satu tangki mobil meroket hingga setara dengan upah rata-rata pekerja di Lebanon dalam satu bulan, yakni sekitar 302.700 pound Lebanon atau hampir Rp3 juta.

Meroketnya harga bahan bakar ini pun tidak hanya berdampak pada melonjaknya tarif transportasi, namun juga naiknya harga listrik, air, dan pangan. Diperkirakan, satu keranjang makanan di Lebanon naik hingga 404 persenKondisi tersebut membuat masyarakat Lebanon yang 80 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, tidak memiliki biaya yang cukup untuk membeli makanan.

Hal yang lebih parah pun turut dirasakan oleh ratusan ribu pengungsi Palestina dan Suriah yang bermukim di sejumlah kamp pengungsian di Lebanon. Banyak di antara mereka tidak memiliki pekerjaan. Sehingga anggaran untuk membeli pangan menjadi sangat berat untuk mereka.

"Warga Lebanon sendiri saja sudah sulit, apalagi para pengungsi yang statusnya hanya menumpang di sana. Sebelum krisis ekonomi Lebanon, kehidupan para pengungsi sudah sulit. Ditambah krisis kali ini, kehidupan mereka pun makin menderita," ujar Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response-ACT, Sabtu (23/10/2021).

Lebih lanjut, Firdaus menjelaskan, mayoritas pengungsi di Lebanon terpaksa hidup dengan mengandalkan bantuan kemanusiaan dari publik internasional. Bukan tidak mau berusaha, namun Firdaus menyebut, sangat sulit bagi pengungsi untuk mendapat pekerjaan, selain karena memang minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia.

"Angka kelaparan dan kerawanan pangan pun berpotensi meningkat di antara para pengungsi jika bantuan pangan tidak diberikan pada mereka. Sebab, pada Juni lalu, PBB sudah menghimpun data bahwa hampir separuh pengungsi Suriah di sana mengalami kerawanan pangan," tambah Firdaus.

Sementara itu, Bank Dunia menyebut krisis ekonomi Lebanon sebagai salah satu yang terburuk di dunia dalam sejarah modern. Penurunan mata uang Lebanon juga menyebabkan harga gas, yang biasa digunakan masyarakat untuk memasak, mengalami kenaikan harga yang tinggi. Membuat kegiatan produksi makanan juga terancam mengalami penurunan.[]