Sudah Empat Hari Banjir di Muaro Bungo Belum Surut

Sudah Empat Hari Banjir di Muaro Bungo Belum Surut

ACTNews, MUARO BUNGO - Selagi seluruh fokus respons bencana banjir mengarah ke Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, beberapa wilayah lain di Pulau Sumatera dihantam cerita banjir serupa. Bahkan melansir kabar seorang relawan Aksi Cepat Tanggap yang bermukim di Jambi, banjir di Kabupaten Muaro Bungo, Jambi sudah empat hari belum juga surut.

Belasan desa di Muaro Bungo terendam banjir sejak Kamis (2/3) pekan lalu. Sampai Ahad malam kemarin (5/3) sejumlah desa masih terendam. “Ketinggian air banjir yang kemarin 3 meter mulai surut, sisa satu meter air banjir di dalam rumah,” kata Rohman relawan ACT melaporkan dari Jambi.

Luapan air banjir di Muaro Bungo berawal dari tiga sungai besar sekaligus. Hujan deras sejak akhir Februari kemarin memicu meluapnya tiga sungai besar, yakni Sungai Batangbungo, Batangtebo, dan Batangpelepat. Ketiga sungai ini pun hulunya berasal dari aliran sungai besar Batanghari.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bungo mencatat, setidaknya ada sembilan kecamatan terdampak banjir. Jumlah rumah warga yang masih terendam sampai hari ke-4 banjir mencapai 1.775 unit rumah. Meski demikian, angka yang dirilis BPBD Bungo ini hanya perkiraan sementara, sebab hujan deras masih terjadi setiap hari. Jika intensitas hujan tetap lebat, sejumlah wilayah terdampak banjir di Bungo belum akan surut.

Beberapa wilayah paling parah digulung banjir tersebar di puluhan desa, di antara di Kecamatan Pelepat, Pelepat Ilir, Bathin III Ulu, Bathin VII, Bathin VIII Babeko, Muko-Muko, Bungodani, Rantau Pandang dan Pasar Muarobungo.

Sementara itu, berdasarkan laporan dari Rohman dan tim relawan ACT di Jambi, wilayah yang masih terendam banjir sampai Ahad malam kemarin (5/3) berada di pinggiran sungai besar Batanghari, meliputi Desa Sungai Buluh, Simpang Jambi, Sungai Pinang, Jaya Setia, Kampung Lereng, dan Purwobakti.

“Sampai Ahad malam ini, lima desa itu air banjirnya belum juga surut. Tinggal setengah meter atau satu meteran. Bantuan jarang sekali masuk ke titik itu. Malam masih gelap, listrik belum menyala,” tutur Rohman.

Rohman menambahkan, kebanyakan warga yang mengungsi lari ke rumah saudara atau rumah warga lainnya yang tidak kebanjiran. “Posko darurat banjir dari pemerintah kecamatan ada tapi tidak banyak dan tidak layak, kurang memadai. Bantuan untuk pengungsi minim sekali. Kebutuhan paling mendesak berupa makanan siap saji, air bersih, dan perlengkapan kebersihan. Warga yang rumahnya di pinggiran sungai sudah mulai resah banjir tidak juga surut,” pungkasnya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali