Sudahi Krisis Air, Lumbung Air Wakaf Indonesia Resmi Berdiri di Gaza

Lumbung Air Wakaf resmi berdiri di Jabalia, Gaza Utara. Pabrik air minum yang mampu produksi 250 ribu liter air bersih tiap harinya ini, akan membantu warga Gaza menyudahi krisis air berkepanjangan.

Lumbung Air Wakaf Palestina
Peresmian Lumbung Air Wakaf di Jabalia, Gaza Utara. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Lagu kebangsaan Indonesia dan Palestina bergema usai lantunan ayat suci Al-Qur’an berkumandang di tanah Gaza, Palestina, Senin (20/12/2021). Siang itu, diresmikan Lumbung Air Wakaf (LAW), sebuah pabrik air minum yang pembangunannya berasal dari dukungan wakif Indonesia. Kehadiran LAW diikhtiarkan meredam krisis air berkepanjangan di Gaza.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response (GHR) ACT menjelaskan, peresmian LAW dihadiri oleh sejumlah pihak. Selain masyarakat Gaza sendiri, ada pula selaku Walikota Jabalia, Mazen Al-Najja dan Kepala Cabang ACT Palestina, Tahany Qassem.

"Setelah menjalani pembangunan selama sekitar lima bulan dan melibatkan puluhan pekerja, alhamdulillah LAW siap beroperasi. Insyaallah, LAW dapat memberikan kontribusi sebanyak 1,25 persen kebutuhan air bersih di Gaza. Beroperasi tiap hari, pabrik ini mampu menjangkau 80 ribu penerima manfaat tiap bulannya," ujar Said.

Bangunan LAW dibangun di tanah seluas 500 meter persegi di daerah Alkaram, Jabalia Timur, Gaza Utara. Lantai pertama, akan digunakan untuk tempat mesin, panel, dan tangki. Di lantai dua akan digunakan sebagai ruang administrasi, pantri, dan toilet.

LAW mampu memproduksi hingga 250 ribu liter air setiap hari. Air dari LAW akan memasok kebutuhan tiga unit armada Humanity Water Tank ACT yang akan mendistribusikan air bersih gratis ke wilayah-wilayah di Gaza dan menjadi air minum kemasan.

 

Peresmian Lumbung Air Wakaf yang dihadiri masyarakat Gaza. (ACTNews)

Selain memberikan manfaat berupa air gratis, Said mengatakan, kehadiran LAW juga membuka lapangan pekerjaan. Belasan warga Gaza bisa direkrut untuk menjadi staff pengoperasian LAW.

LAW juga akan dilengkapi dengan 10 tangki air dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter. Dua tangki akan digunakan untuk penampungan air dari sumur sumber air dan delapan tangki lainnya akan digunakan untuk proses desalinasi.

"Proses ini dilakukan untuk menghilangkan kadar garam berlebih dalam air untuk mendapatkan air yang dapat dikonsumsi. Sebab lokasi Gaza yang berdekatan dengan laut, membuat air tanahnya memiliki kadar garam yang sangat tinggi," jelas Said.

Selain itu, terdapat tiga tangki kecil dengan kapasitas 200 liter, yang masing-masing berfungsi sebagai penyaring awal, mensterilkan air dari bakteri, dan menetralkan keasaman dan kebasaan dalam air.[]