Suhu Dingin Mengepung Palestina

Salju menyelimuti Palestina di pertengahan Februari ini. Datangnya musim ini tak melulu menjadi kabar baik nan menyenangkan. Pasalnya, kedinginan menjadi ancaman nyata anak-anak hingga orang dewasa yang tinggal di negara yang sedang dirundung konflik kemanusiaan tersebut.

Salju di Palestina
Atap bangunan di Yerusalem yang diselimuti salju pada Februari 2021. (Reuters/Ilan Rosenberg)

ACTNews, YERUSALEM Di bulan Februari 2021, ada yang berbeda dari pemandangan wilayah Yerusalem. Atap-atap bangunan, termasuk kompleks Masjid Al-Aqsa, tertutup salju putih, begitu juga dengan pepohonan, jalanan serta kendaran. Udara dingin mengepung, membuat setiap orang harus siap sedia jaket tebal atau baju hangat. Anak-anak berbondong-bondong keluar ruangan, mereka membangun rumah dari salju yang dikumpulkan serta bermain bersama teman-teman.

Jumat (19/2/2021) ini, suhu di Yerusalem mencapai 7 derajat Celsius, dan akan terus menurun ketika malam. Turunnya salju merupakan fenomena langka di Yerusalem. Sejak Rabu malam lalu salju datang setelah badai melanda wilayah yang tengah dirundung konflik kemanusiaan ini. Dampaknya, banyak aktivitas tekendala, termasuk penanganan pandemi Covid-19, perkantoran serta sekolah.

Datangnya salju ini sebenarnya tak seluruhnya menjadi kabar baik dari tanah Palestina. Malah sebaliknya, ini menjadi ancaman munculnya kabar buruk. Hal tersebut tak lepas dari kondisi wilayah Palestina yang hingga saat ini masih dalam kepungan dan jajahan Israel. Berbagai sumber daya dan kebutuhan jumlahnya terbatas bagi penduduk Palestina, terlebih dalam menghadapi musim dingin.

“Diperkirakan dalam beberapa hari ke depan suhu akan semakin dingin. Ini tentu menjadi ancaman bagi penduduk Palestina yang sedang dirundung konflik kemanusiaan dan krisis sumber daya,” jelas Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response-ACT, Kamis (18/2/2021).

Selain Palestina, beberapa negara lain yang tengah dalam konflik dan menampung pengungsi juga tengah dihadapkan pada suhu dingin. Sebut saja Suriah, Lebanon, hingga Turki. Kondisi ini membuat penduduk di negara konflik maupun pengungsi menantikan bantuan kemanusiaan.[]