Suka Duka Pengabdian 30 Tahun Guru Honorer

Tak sedikit anak murid yang saat ini Hasanah ajar merupakan anak dari muridnya dahulu. Wajar, karena sudah 30 tahun perempuan tiga anak ini mengabdi di bidang pendidikan, dan hingga kini statusnya masih honorer dengan gaji Rp800 ribu per bulan.

Hasanah sedang membuka buku yang menjadi bahan ajarnya ke anak-anak kelas 1 SDN Cinangneng 01, Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Terhitung hingga kini, Hasanah telah menjadi guru 30 tahun lamanya dengan status honorer. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Terhitung hingga kini, Hasanah telah mengabdikan dirinya sebagai guru selama 30 tahun. SDN Cinangneng 01 yang ada di Kecamatan Tenjolaya menjadi tempatnya menghabiskan waktu untuk Hasanah mengabdi pada bidang pendidikan. Selama puluhan tahun itu juga, ibu tiga anak ini statusnya hanya sebagai guru honorer dengan gaji saat ini Rp800 ribu per bulan.

Sorak-sorai anak-anak sekolah seakan telah menjadi teman akrabnya. Begitu juga canda bersama guru dan pegawai sekolah lain yang menjadi keluarga dekat. Hasanah menuturkan, karena pengabdiannya yang sudah cukup lama menjadi guru, ia kini bahkan mengajar anak dari murid-muridnya terdahulu.

“Orang tua anak-anak ini dulunya murid saya juga, ya sekarang mereka (anak murid) sudah kayak cucu saya sendiri,” ungkap Hasanah, Rabu (26/8), saat ditemui tim ACTNews di rumahnya yang tak jauh dari SDN Cinangneng 01.

Tahun 1990 menjadi awal pengabdian Hasanah di SDN Cinangneng 01. Gajinya hanya puluhan ribu rupiah saja waktu itu, sedangkan ia sangat ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sedikit demi sedikit ia menyisihkan gajinya yang kecil untuk menabung demi melanjutkan pendidikan. Hingga akhirnya ia baru bisa menyelesaikan strata satu saat sudah memiliki dua anak, atau beberapa tahun setelah ia mulai mengajar.

Saat ini, Hasanah mempunyai tiga orang anak. Anak pertama berkebutuhan khusus, sementara anak keduanya sudah lulus sekolah menengah atas namun tak melanjutkan pendidikan tinggi karena keterbatasan dana, dan sejak pandemi Covid-19 tak lagi bekerja. Sedangkan anak terakhir Hasanah masih usia sekolah. Sang suami bekerja di Depok dengan gaji Rp50 ribu per hari. Dengan pendapatan suami dan gajinya sebagai guru, Hasanah harus membesarkan ketiga anaknya.

Walau telah berpuluh tahun mengabdi dan saat ini gajinya hanya Rp800 ribu, Hasanah tak pernah mempermasalahkannya. Perempuan yang memang bercita-cita ingin menjadi guru ini telah mengikhlaskan waktunya untuk mencerdaskan anak bangsa lewat bidang pendidikan. “Dari muda itu saya memang ingin jadi guru, dan mungkin karena jiwa saya sudah sepenuhnya untuk masyarakat dan bisa disalurkan lewat bidang pendidikan, jadinya saya sangat ikhlas dan sangat senang kalau ada anak murid saya yang sukses di kemudian hari,” ungkap Hasanah.

Saat ini, di tengah pandemi Covid-19, Hasanah tetap menjalankan tugasnya sebagai guru. Walau berbagai keterbatasan ditemui, ia harus beradaptasi demi anak muridnya. Bermodal gawai pintar yang kondisinya sudah tak lagi baik, Hasanah setiap hari mendapingi murid lewat pesan di grup WhatsApp. Tugas hingga penilaian dikirim lewat pesan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, Hasanah meminta izin ke kepala sekolah untuk melakukan pertemuan langsung dengan murid walau terbatas jumlahnya dan mematuhi protokol kesehatan. Ini dilakukan Hasanah karena ia diberi amanah menjadi wali kelas 1 yang muridnya merupakan anak-anak yang baru saja masuk SD di tahun ajaran baru. “Enggak ada tatap muka itu sangat kendala bagi saya, soalnya HP saya juga ‘bagus’ begini,” kata Hasanah sambil diiringi tawanya.[]