Sukacita Iftar Bersama, Redam Ingatan Kelam Muslim Mali

Para pengungsi internal itu mengaku alami kesulitan untuk mendapat pasokan makanan, bahkan saat Ramadan.

ACTNews, BAMAKO - Hari-hari kelam masih membekas dalam ingatan masyarakat Mali tentang tragedi pembantaian yang menyerang ratusan petani dan pengembala muslim di Ogossagou, akhir Maret lalu. Pembantaian tidak pandang bulu, menargetkan wanita hamil, anak-anak, dan orang tua hingga menjadi korban. Bahkan sebagian dari mereka ada yang dibakar hidup-hidup.


Pascatragedi itu, banyak muslim Mali yang pergi melarikan diri dan mengungsi ke daerah yang dirasa aman. Salah satunya ke Bamako, ibu kota Mali yang terletak di sebelah selatan Mali. Kemudian mereka hidup di kamp pengungsian yang kondisinya jauh dari rumah mereka sebelumnya. Tak ada tempat tinggal tetap, juga tidak ada pekerjaan untuk memperoleh penghasilan.


Para pengungsi internal itu pun mengaku alami kesulitan untuk mendapat pasokan makanan. Terlebih selama bulan Ramadan, kadang kala mereka bingung harus sahur dan berbuka dengan makanan apa. Lantas, bagaimana mereka bertahan hidup? Masih adakah sukacita bulan suci yang seharusnya didapatkan setiap muslim selama Ramadan?




Pada pekan ketiga Ramadan, Ahad (26/5) kemarin, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui relawan lokal berkesempatan untuk membersamai muslim Mali di Bamako. Hari itu, ACT menggelar kegiatan berbuka puasa bersama dengan mengundang pengungsi internal sekaligus masyarakat muslim sekitar yang tinggal di Bamako.  


“Ada sebanyak 250 muslim Mali, terdiri dari pengungsi internal dan masyarakat sekitar, yang hadir untuk mengikuti kegiatan iftar bersama. Alhamdulillah, mereka menikmati sajian iftar yang disediakan,” terang Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT.


Mali sendiri adalah sebuah negara yang berada di bagian barat Afrika. Mayoritas masyarakat Mali beragama muslim, mencapai 95 persen dari jumlah keseluruhan penduduk yakni 19 juta jiwa. Sehingga tidak dapat dipungkiri, tragedi pembantaian telah membuat sebagian besar masyarakat Mali resah, dan berusaha mengamankan diri dengan mengungsi ke daerah-daerah yang lebih aman. []