Sukacita Santri Al-Falah Tanggamus Menerima Bantuan Beras

Program Beras untuk Santri Indonesia menyapa pesantren di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Pesantren yang sudah berusia 28 tahun itu masih mengalami keterbatasan dalam pemenuhan pangan santri.

Sukacita Santri Al-Falah Tanggamus Menerima Bantuan Beras' photo
Santri Al-Falah menerima bantuan beras dari para dermawan Aksi Cepat Tanggap. Selama ini, Pesantren Al Falah mengandalkan bantuan dari masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pesantren. (ACTNews/Hermawan Wahyu)

ACTNews, TANGGAMUS – Mobil yang kami tumpangi harus melewati jalan sempit dengan tanjakan menikung. Kontur tanah bergelombang dan hamparan pepohonan di sisi jalan menjadi pemandangan. Terletak di dataran tinggi yang diapit dua sungai, lokasi pesantren Al-Falah yang kami tuju berada tidak jauh dari Situs Megalitik Batu Bedil, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Ratusan santri yang terletak di Pekon (desa) Sumber Mulya, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus sudah berbaris rapi menanti kehadiran kami, tim ACT Lampung, yang hendak mengimplementasikan program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI), Sabtu (2/11). Sambil sedikit menunduk, para santri langsung menyambar tangan relawan untuk bersalaman. Dari wajah mereka, tampak raut bahagia mendapatkan tamu yang sudah ditunggu sejak pagi. 

Pesantren Al-Falah sudah berdiri sejak 1991 dengan bangunan sederhana untuk menampung para santri mengaji dan menginap. Hingga kini, bangunan tersebut tidak banyak berubah. Hanya ada penambahan kolam ikan dan rumah tinggal pengelola pondok.

Santri laki-laki menempati sebuah bangunan berlantai dua dengan ruangan sempit bersekat triplek. Bagian depan dipakai untuk mengaji, sedangkan bagian belakang dipakai tidur dan menyimpan perlengkapan pribadi. Sementara, bangunan lantai dua kini sudah tidak difungsikan lagi karena sudah rapuh.

“Santri ngaji dan tidur di sini. Untuk bangunan lantai dua dikosongkan karena sudah tidak layak pakai. Tiang penyangga dan tembok sudah rapuh, kami khawatir kalau hujan angin, bangunan bisa ambruk,” jelas Muhammad Arifin, santri Al-Falah.

Sejumlah fasilitas di pondok pesantren itu pun masih minim. Minimnya sumber air membuat santri harus menggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan wudu. Air dialirkan melalui pipa dari bendungan sungai, yang jaraknya sekitar 2 kilometer. “Santri terpaksa memanfaatkan air keruh tersebut karena tidak ada pilihan. Sumur gali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak dan minum. Kami masak pakai kayu supaya hemat, kalau bahan makanan kadang ada yang memberi. Kami masak sehari dua kali. Biasanya masak nasi, terong, tempe, dan sambal,” jelas Arifin.

Untuk mencukupi kebutuhan makanan, pihak pesantren mengandalkan bantuan dari masyarakat. Namun, jarak yang jauh antara pesantren dan ibu kota kabupaten menyebabkan bantuan jarang sekali datang. “Untuk itu, kami menyampaikan amanah bantuan beras dari dermawan. Harapannya dengan adanya bantuan beras akan menambah semangat belajar para santri,” tutur Arief Rakhman dari Tim Program ACT Lampung.

Bantuan itu diterima oleh 127 santri dan pengajar Pesantren Al-Falah. Mereka tidak kenal lelah melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tengah minimnya fasilitas pendidikan yang dimiliki pesantren.

“Alhamdulillah santri senang dapat bantuan beras. Ke depan kami akan mengajak masyarakat untuk memperbaiki bangunan pondok dan pembangunan sumur wakaf,” tutup Arief. []

Bagikan