Sulastri Mencari Daging Kurban dengan Berjalan Kaki Empat Kilometer

Di lingkungan tempat tinggal Sulastri, tak ada pemotongan hewan kurban saat Iduladha tiba. Untuk itu, keesokan harinya (tasyrik pertama), ia memilih berkeliling permukiman warga sejauh empat kilometer untuk meminta daging. Perempuan dari keluarga pemulung itu terpaksa berkeliling permukiman warga demi bisa menikati hidangan daging.

Salah satu penerima paket daging dari Global Qurban-ACT Lampung. Salah satu titik pendistribusian di Lampung ialah warga yang berprofesi sebagai pemulung. (ACTNews)

ACTNews, BANDAR LAMPUNG – Sejak hari tasyrik pertama, Sulastri (54), berkeliling ke kawasan permukiman di Way Halim, Bandar Lampung. Bersama tetangganya, Sulastri mengelilingi permukiman warga dengan berjalan kaki. Ia hendak menuju surau serta masjid atau tempat pemotongan hewan kurban. satu yang ia cari: daging kurban untuk dinikmati bersama keluarga.

Warga RT 006, Lingkungan 2, Gunung Sulah, Way Halim, Bandar Lampung ini terpaksa berkeliling mencari daging kurban karena tak adanya penyembelihan kurban di lingkungan tempat Sulastri tinggal. Selain pandemi Covid-19, tak adanya kurban di lingkungan tempat tinggal Sulastri juga karena ekonomi warga yang masih prasejahtera. Mayoritas bekerja sebagai pemulung, termasuk keluarga Sulastri.

Usahanya berkeliling permukiman sejauh empat kilometer membuahkan hasil. Dua kantong daging ia dapatkan dan harus dibagi rata dengan tetangganya. Daging tersebut nantinya diolah untuk dikonsumsi Sulastri dan keluarga.

“Sehari-hari saya bikin kembang telur. Rata-rata dapat uang 20 ribuan (rupiah). Kalau suami kerjanya mencari rongsokan,” tutur Sulastri, Senin (3/8), sambil menceritakan perjuangannya mencari daging kurban sejak satu hari setelah Iduladha.

Hari Senin itu, Global Qurban - ACT berkesempatan datang ke tempat tinggal Sulastri. Selain menjalin silaturahmi, Global Qurban - ACT juga membawa paket daging dari dermawan yang menyalurkan kurbannya melalui Global Qurban. Selain Sulastri, warga prasejahtera yang didominasi keluarga pemulung lainnya juga mendapatkan daging serupa. Sambutan baik pun  hadir.

Sulastri berencana mengolah daging kurban yang ia kumpulkan menjadi rendang. Daging rendang diakuinya menjadi hidangan mewah, karena Sulastri sehari-hari hanya bisa menikmati lauk tahu dan tempe yang harganya lebih terjangkau. Olahan khas Minang dipilihnya karena dianggap tahan lama dan tak mudah basi.

ACT sendiri selalu berikhtiar untuk menghadirkan kebutuhan pangan masyarakat dengan berbagai aksi kebaikannya. Jika pada momen Iduladha ACT dan Global Qurban menyalurkan daging kurban, maka selepas itu, program pangan lainnya akan terus berlanjut.

Kepala Cabang ACT Lampung Dian Eka Wahyuni mengatakan, pemenuhan pangan dari ACT tak hanya hadir ketika kurban saja, akan tetapi jauh sebelum Iduladha datang. “Produk kebaikan kami seperti beras wakaf kami distribusikan ke masyarakat lewat berbagai program kemanusiaan. Namun, semua ini tak akan pernah bisa terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan dari masyarakat,” jelas Dian, Ahad (2/8).[]