Sulistiani: Kalau Sudah Gagal Panen, Bisa Apa?

Untuk menggarap sawah, Sulistiani (24) kerap meminjam dengan bunga yang cukup memberatkan. Dengan adanya bunga dan segala risiko bertani, hasil taninya belum seperti yang ia harapkan.

Sulistiani baru dua tahun belakangan menekuni dunia tani. (ACTNews)

ACTNews, BOJONEGORO – Sulistiani (24) memang belum lama menekuni usaha pertanian, melainkan baru dua tahun belakangan. Tapi ibu rumah tangga ini pun terbiasa sebab bagaimanapun, usaha inilah yang diandalkan untuk menambah penghasilan keluarganya.

“Lahan garapan saya kecil mas, hanya 800 meter persegi. Itu pun belum mencukupi untuk kebutuhan hidup harian,” ungkap Sulistiani ditemui di rumahnya di kawasan Dusun Gendong, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro pada bulan Februari lalu.

Di masa tanam, ia memperoleh modal dengan meminjam. Modal yang harus bayarkan diakui Sulistiani cukup tinggi dan memberatkan saat pengembalian. Apa yang dia lakukan terkadang tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan.


Belum lagi jika menimbang risiko, selalu ada kemungkinan gagal panen di lahan Sulistiani. “Petani di desa ini rata-rata bertani dua kali masa tanam, itu pun harap cemas karena ada kalanya curah hujan rendah. Kalau sudah gagal panen, kami bisa apa? Biaya produksi tanam berbunga, hasil panen saya cuma segini aja, mas. Kadang bisa enggak bisa, dicukup-cukupi untuk kebutuhan harian keluarga,” sambung Sulistiani kepada Tim Global Wakaf-ACT.

Permasalahan Sulistiani kerap dialami petani lainnya. Karenanya, Global Wakaf-ACT terus meluaskan bantuan melalui program Wakaf Sawah Produktif. Bantuan modal ini diharapkan dapat melancarkan usaha mereka di masa tanam, sehingga mereka tak lagi terjerat pinjaman berbunga dari rentenir.

Program Wakaf Sawah Produktif sendiri berada di bawah payung gerakan Aksi Angkat Petani Indonesia yang diinisiasi oleh ACT. Gerakan ini bertujuan menguatkan kedaulatan pangan dengan mendukung produksi dan kesejahteraan petani.[]