Sulitnya Akses Jalan, Pangkal Permasalahan di Kampung Lau Gedang

Sulitnya akses jalan cukup berpengaruh kepada kehidupan warga di Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kutalimbaru, Deli Serdang. Akses ekonomi, listrik, pendidikan, sampai kesehatan pun terkendala karena sulitnya jalan.

Sulitnya Akses Jalan, Pangkal Permasalahan di Kampung Lau Gedang' photo
Salah satu jalan di Dusun 11 Sembekan 2. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, DELI SERDANG – Hampir tiba di kaki Gunung Sibayak, terdapat sebuah jalan kecil menurun. Jalan kecil ini hanya bisa dilalui satu mobil dengan syarat mobil itupun cukup kuat untuk menjejaki setiap batu besar yang berserakan di sepanjang jalan. Selama perjalanan, pemandangan hijau lereng perbukitan telah menyambut, ditemani kebun-kebun kopi yang berjejer di pinggir jalanan.

Jalan inilah satu-satunya yang mesti ditempuh agar sampai ke Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kutalimbaru, Deli Serdang. Saking sulitnya akses jalan cukup berpengaruh kepada kehidupan warga di Dusun 11 Sembekan Dua.

“Sebenarnya Lau Gedang ini kan potensi wisatanya tinggi karena orang-orang di kota sekarang liburannya ke daerah-daerah hijau seperti ini. Kalau jalan itu betul saja, saya yakin kampung kita ini bisa 10 kali lebih maju dari sekarang,” kata Hasan (34), seorang petani kopi dari Kampung Lau Gedang, Dusun 11 Sembekan Dua pada Ahad (2/8) lalu.

Hasan membayangkan ke depannya jika dusun mereka ke depannya disulap menjadi kawasan wisata. Warga ikut terberdayakan karena kehadiran penginapan, kopi juga bisa menjadi kekuatan karena mayoritas masyarakat memang bekerja sebagai petani kopi.


Masyarakat yang sedang memasak di Kampung Lau Gedang. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Asal jangan dibangun hotel saja di sini, kalau ada hotel kesenjangannya jauh sekali. Jadi sangat kelihatan yang mana yang kaya dan yang mana yang miskin,” ujar Hasan sambil tertawa.

Namun tampaknya kondisi itu masih jauh dari bayangan Hasan. Kampung mereka kenyataannya masih sulit juga secara fasilitas. Misalnya listrik yang hanya menyala sesekali membuat kegiatan masyarakat masih terbatasi. Hal ini karena akses untuk pemasangan tiang dan kabel-kabel listrik cukup berat karena medan yang cukup esktrem.

“Listrik selama ini hanya mengalir dari mesin diesel. Ada jam menyalanya, yakni pukul setengah 7 pagi, sampai jam 11 malam. Kalau ada kegiatan di luar jam-jam itu yang butuh listrik bisa berjalan, tapi ada fee-nya,” kelakar Semargo Sinulingga selaku Kepala Dusun 11 Sembekan Dua.

Selain itu fasilitas lain seperti pelayanan kesehatan dan sekolah masih minim. Banyak anak-anak yang ingin sekolah harus pergi ke Kota Berastagi yang berada cukup jauh dari dusun dan dapat ditempuh kurang lebih satu jam dengan kendaraan. “Ada yang menyewa kos. Tapi kalaupun tidak menyewa kos, ya pulang balik lewat jalan di depan itu. Naik turun bukit,” cerita Semargo.


Kondisi inilah yang banyak menarik para dermawan untuk terus membersamai perjuangan warga di Dusun 11 Sembekan Dua. Salah satunya Global Qurban – ACT yang mengantarkan amanah hewan kurban para dermawan ke Kampung Lau Gedang di dusun ini.

“Kita ingin membantu warga dalam menghadapi kesulitan mereka saat ini. Oleh karenanya pada kurban kali ini, kita mengantarkan paket daging amanah dari para dermawan ke warga di Kampung Lau Gedang, salah satu kampung di Dusun 11 Sembekan Dua,” ungkap Sakti Wibowo dari Tim Program ACT Sumatra Utara.

Sebelumnya ACT juga hadir membersamai warga Kampung Lau Gedang, salah satunya melalui bantuan pangan yang didistribusikan pada bulan Januari lalu. Sakti berharap, kepedulian masyarakat kepada Kampung Lau Gedang dapat terus berlanjut, “Kita berharap seterusnya dapat menyapa terus masyarakat di Kampung Lau Gedang. Karena itu kita berharap dukungan dari para dermawan,” ungkap Sakti. []

Bagikan