Sulitnya Memperoleh Air Bersih di Kampung Korod

Ketersediaan air bersih pada musim kemarau di Kampung Korod, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, sangat minim karena sumber air warga kerap kali mengering saat kemarau. Warga juga sering membeli air per jeriken atau mengandalkan bantuan dari instansi setempat.

Sulitnya Memperoleh Air Bersih di Kampung Korod' photo
Para pekerja sedang menggali Sumur Wakaf di Kampung Korod. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI – Air yang kerap dikonsumsi warga Kampung Korod, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, hanya berasal dari alam. Sungai kecil yang mengalir dari Sungai Cihoe jadi andalan mereka. Tetapi sungai itu tidak dapat bertahan di tengah musim kemarau. Perlahan debitnya akan kecil sampai mengering sama sekali, tergantung berapa lama musim kemarau berlangsung.

Jika sudah begitu, air di Masjid Jami Baitul Rohman juga bisa mereka andalkan. Tetapi, persediaan air di sana tidak cukup banyak untuk warga yang membutuhkan. Masih perlu sumber air yang lebih bisa mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari ataupun yang lainnya dalam rangka rutinitas ibadah.

“Ketersediaan air bersih pada musim kemarau di Kampung Korod sangat minim karena sumur mengering. Apalagi sungai-sungai kecil. Kalau sudah tidak bisa ditemukan lagi, warga kadang membeli (air bersih) dengan harga Rp2 ribu per jeriken, di mana untuk memperolehnya juga mesti mengantre lama. Selain itu, pada musim kemarau warga juga bergantung pada bantuan air bersih yang didistribusikan gratis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat,” jelas Wahyu Nur Alim dari Tim Global Wakaf – ACT pada Selasa (23/6) ini.

Kondisi tersebut berlangsung hampir setiap tahunnya di Kampung Korod. Untuk memperoleh air bersih, dibutuhkan sumur bor dengan kedalaman 100 meter atau lebih, sebab kondisi tanah yang berbatu wadas.


Sumur Wakaf di Kampung Korod yang baru saja dibangun. (ACTNews)

“Sebab jika kedalaman kurang dari 100 meter, kondisi sumur akan kembali kering saat musim kemarau. Sebelumnya belum pernah dilakukan pengeboran sampai dengan kedalaman tersebut. Titik lokasi pengeboran juga mesti diperhitungkan dengan saksama agar didapat hasil air yang maksimal,” kata Wahyu.

Langkah-langkah itulah yang ditempuh Global Wakaf – ACT yang bekerja sama dengan Kitabisa.com, untuk memperoleh air bersih di sana. Sumur Wakaf yang dibangun pada pertengahan Februari lalu telah selesai pada akhir April kemarin, dan dapat dimanfaatkan oleh 430 jiwa yang tinggal di sana.


“Semoga dengan langkah ini, kebutuhan air bersih masyarakat di Kampung Korod bisa terpenuhi. Tentu tidak hanya untuk jangka pendek karena kekeringan terjadi bertahun-tahun di sini. Kita harap Sumur Wakaf yang kita bangun dapat mengaliri air bersih di Kampung Korod bertahun-tahun ke depan juga,” harap Wahyu.

Salah satu warga bernama Wawan, mengutarakan rasa terima kasihnya kepada tim Global Wakaf – ACT dan Kitabisa.com. Serta tidak lupa juga mendoakan para dermawan yang telah membantu masalah kekeringan yang mereka hadapi saat ini.

“Alhamdulillah sangat terbantu, jadi enggak terlalu kekeringan. Terima kasih adanya bantuan Sumur Wakaf seperti ini. Warga di sini benar-benar berterima kasih kepada Global Wakaf – ACT dan orang baik melalui Kitabisa.com. Semoga gusti Allah melimpahkan keberkahan (kepada para dermawan),” ungkap Wawan. []


Bagikan