Sulitnya Mendapatkan Pangan Sejak Pandemi Corona

Selasa (7/4) pukul 15.00 WIB, Maman baru satu kali menikmati makanan berat. Ia tak memiliki uang lagi untuk membeli makan siang. Sejak pandemi, penjual sepatu keliling asal Bogor itu kesulitan membeli makan.

Maman (kiri) sedang menikmati sajian makanan siap santap dari Dapur Terpusat di tepian Jalan Pajajaran, Bogor yang dibagikan menggunakan Humanity Food Van, Selasa (7/4).

ACTNews, BOGOR Belasan orang duduk di tepian Jalan Pajajaran, Kota Bogor yang teduh dari rindangnya pepohonan, Selasa (7/4). Trotoar jadi tempat duduk mereka sambil mengharap kedermawanan pengguna jalan yang lewat. Bercakap-cakap jadi pelepas lelah saat menunggu orang yang memberikan rezeki di hari itu.

Maman salah satunya. Sabar ia menunggu pengguna jalan yang berbaik hati memberikan makanan. Hingga pukul 15.00 WIB, Maman mengaku baru makan sekali. Ia tak memegang uang untuk dibelikan makanan sebagai pengganjal perut. Rasa lapar seakan menjadi teman akrabnya. “Di sini ya nunggu ada yang ngasih saja, mau duit atau makanan,” katanya kepada ACTNews.

Pria asal Cihideung, Bogor ini sebelumnya merupakan pedagang sepatu keliling. Maman biasa menjajakan sepatunya ke permukiman di sekitar Kota Bogor. Tak banyak pendapatan dari berjualan sepatu, tapi Maman merasa cukup walau hanya untuk sekadar membeli makan sehari-hari.

Akan tetapi kini hidup Maman seakan semakin sulit keadaannya. Pandemi corona yang melanda Indonesia pun berdampak pada penjualan sepatu. “Biasa tiga hari bisa habis 5 sepatu, tapi sekarang jual satu pasang aja susah banget,” ungkapnya.

Maman tak sendiri, Ikam, supir angkutan kota di Bogor, pun merasakan hal serupa. Namun, Ikam terus melajukan angkotnya demi mencari pendapatan. Sejak wabah melanda, pendapatan Ikam semakin berkurang. Selasa (7/4) sore, Ikam mengaku baru beberapa orang saja yang ia angkut sebagai penumpang. Padahal biasanya sudah puluhan orang dan ia mampu mengantongi uang puluhan ribu.

Duh sekarang penumpang sepi banget. Buat setoran ke pemilik mobil aja susah,” jelas Ikam yang juga mengatakan bahwa pemilik mobil memaklumi kondisi yang sedang terjadi sekarang.

Penumpang angkot Ikam pada umumnya merupakan pelajar serta pekerja di sekitar Bogor. Akan tetapi sejak dilakukannya penghentian sementara kegiatan di luar rumah, kondisi ini berdampak pada pendapatan Ikam dan pengemudi angkutan umum lainnya.

Peran ACT

Tak hanya berdampak pada kesehatan, Covid-19 juga menyerang sendi kehidupan masyarakat lainnya, termasuk ekonomi. Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak awal pandemi ini hadir, telah melakukan berbagai tindakan, khususnya edukasi melalui sosialisasi ke masyarakat yang dilakukan oleh tim medis serta penyediaan pasokan pangan.

Selasa (7/4), kehadiran ACT di Bogor yang kemudian mempertemukan dengan Maman dan Ikam merupakan rangkaian aksi penanganan corona dari ACT. Dua ribu makanan siap santap dari Dapur Terpusat yang kemudian diantar ke Maman, Ikam serta ribuan penerima manfaat lainnya menggunakan Humanity Food Van, merupakan bagian dari Operasi Makan Gratis. Bertempat di kawasan Megamendung, Puncak Bogor, makanan siap santap ini dimasak untuk kemudian dibagikan secara gratis.

Direktur Program ACT Bambang Triyono mengatakan, kehadiran Humanity Food Van merupakan cerminan kedermawanan masyarakat Indonesia yang peduli pada corona. Pemenuhan kebutuhan pangan kini menjadi salah satu fokus ACT dalam upaya penanganan virus yang mematikan ini. “Kehadiran Humanity Food Van bakal menjangkau masyarakat lebih luas lagi,” ungkapnya.[]