Sumur Wakaf Aliri Lahan, Petani Sigi Dapat Kembali Bertani

Pascabencana di Sulawesi Tengah 2018 silam, krisis di sektor pertanian terjadi akibat rusaknya saluran air. Perbaikan saluran pun sedang dilakukan, namun baru akan selesai 2023 nanti. Untuk itu, Global Wakaf-ACT hadir memberikan solusi untuk pengairan.

Petani di Sigi menunjukkan tanamannya yang tengah berbuah. Lahan tersebut saat ini kembali terairi air dari Sumur Wakaf Pertanian yang ACT bangun sebagai solusi pascabencana alam. (ACTNews)

ACTNews, SIGI – Bencana alam gempa bumi yang memicu tsunami di pantai serta likuefaksi di beberapa titik di Sulawesi Tengah membawa dampak kurang baik secara berkepanjangan bagi warga. Kejadian tersebut membuat ribuan orang dinyatakan meninggal dunia, ratusan jiwa hilang serta kerugian materiel yang sangat banyak jumlahnya. Kondisi alam pun berubah dan berpengaruh pada kehidupan warga.

Salah satu pihak yang merasakan dampak kurang baik berkepanjangan ialah petani. Di Sigi, tepatnya Desa Karawana, Kecamatan Dolo, sejak bencana besar tersebut, para petani kehilangan sumber air yang menjadi pokok pertanian. Irigasi Gumbasa yang menjadi penyalur air di beberapa titik alirannya mengalami kerusakan parah akibat likuefaksi. Hal ini membawa dampak ke 350 hektare sawah tak lagi terairi hingga saat ini. Upaya perbaikan irigasi pun sedang dilakukan, namun diperkirakan baru akan selesai pada 2023 mendatang. Kerusakan yang sangat parah menjadi alasan lamanya perbaikan.

Warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani, pascabencana, harus memutar otak guna memenuhi kebutuhan. Kali ini, kebutuhan mereka tak hanya urusan perut saja, tapi juga perbaikan kondisi setelah bencana yang membawa kerusakan parah ke berbagai sendi kehidupan. Alih profesi pun menjadi fenomena karena lahan pertanian tak lagi menjanjikan.

Rafik, salah satu petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Pada Elo, Desa Karawana, menuturkan dirinya sempat menjadi buruh harian lepas setelah bencana. Dari pekerjaan itu, uang yang Rafik kumpulkan hanya terhitung ratusan ribu saja per bulannya. “Kerusakan Irigasi Gumbasa berpengaruh besar. Saya dan semua petani di sini (Karawana) kehilangan pekerjaan. Sedangkan kami membutuhkan biaya untuk perbaikan tempat tinggal yang rusak karena gempa,” ungkapnya, Selasa (6/10).

Hadirnya Sumur Wakaf Pertanian

Kini, petani di Karawana memulai kembali menjalani profesinya sebagai produsen pangan. Kehadiran Global Wakaf-ACT yang membangun Sumur Wakaf Pertanian menjadi alasan mereka kembali ke profesi seperti sebelum bencana. Air dari sumur-sumur yang terbangun telah mengalirkan air. Bagi petani, ini merupakan solusi yang tepat karena pembangunan ulang Irigasi Gumbasa yang masih berlangsung lama.

Rafik sendiri saat ini menanam rica, jagung dan memelihara ikan lele di tengah perkebunannya. Selain Rafik, petani lain di Karawana pun merasakan hal yang sama. Lahan sawah mereka kembali produktif setelah hadirnya sumur. “Saya mewakili kelompok tani mengucapkan terima kasih,” ungkapnya.

Sumur Wakaf Pertanian sendiri merupakan salah satu produk kebaikan dari dana wakaf yang Global Wakaf-ACT himpun dari masyarakat. Sumur ini dikhususkan untuk mengiairi lahan-lahan produktif yang dikelola oleh petani prasejahtera atau di daerah bencana. Di Indonesia, sumur serupa telah hadir di beberapa daerah yang benar-benar membutuhkan, namun belum semuanya dapat terkover. Untuk itu, Global Wakaf masih terus membuka kesempatan untuk wakif mewakafkan hartanya untuk meluaskan maslahat Sumur Wakaf.[]