Sumur Wakaf Bantu Ratusan Petani Somalia Berladang

Sumur Wakaf hadir di Afgoyee, kota pertanian di Somalia. Sumur ini menjadi solusi permasalahan ratusan petani yang kesulitan mengairi lahan.

sumur wakaf somalia
Antusiasme warga Somalia menikmati air bersih dari Sumur Wakaf. (ACTNews)

ACTNews, AFGOYEE – Menjadi salah satu kota pertanian di Somalia, Afgoyee diisi oleh banyak distrik yang penduduknya berprofesi sebagai seorang petani. Mayoritas adalah petani dari keluarga miskin yang sangat kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kemiskinan di Afgoyee disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah perkembangan sektor pertanian yang kurang optimal. Hal ini merupakan imbas dari kekeringan parah yang telah melanda beberapa tahun terakhir. 

Global Wakaf-ACT pun menghadirkan ikhtiar untuk membantu masyarakat di sana. Tepat di Desa Bulo Sisho Global Wakaf-ACT membangun Sumur Wakaf.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response ACT menerangkan, sedikitnya 400 petani bisa menggunakan sumur tersebut untuk menyirami tanaman mereka. Selain untuk mengairi lahan pertanian, Sumur Wakaf juga bisa digunakan untuk kepentingan konsumsi.

"Proses pembangunan juga melibatkan warga sekitar. Sumur Wakaf ini tidak hanya diperuntukkan untuk petani di Desa Bulo Sisho, namun juga desa-desa di sekitarnya," ujar Firdaus.

Salah satu warga Desa Bulo Sisho, Halima Ali Mohamed (48) mengaku sangat terbantu dengan pembangunan Sumur Wakaf di desanya. Ia dan delapan anggota keluarganya tidak khawatir lagi dalam menghadapi masa-masa kesulitan air.

"Terima kasih saudara-saudara ACT dan para dermawan. Saya sangat senang, karena saya dan keluarga saya mendapat air bersih. Kami juga merasa aman karena tidak perlu lagi pergi ke tempat jauh untuk mencari air. Kami berdoa agar Allah memberikan surganya kepada pewakif sumur ini. Amin," doa Halima.

Berdasarkan data dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Afgoyee menjadi salah satu kota di Somalia yang banyak dihuni oleh puluhan ribu pengungsi internal. Meski di sana banyak lahan pertanian, nyatanya kebutuhan pangan masih sangat tinggi, yakni mencapai 88 persen.[]