Sumur Wakaf Jadi Andalan Warga Muara Gembong

Sumur Wakaf di Desa Pantai Bahagia digunakan untuk keperluan musala yang hampir berusia tujuh dekade dan untuk warga umum yang kesulitan air di desa pesisir ini.

Sumur Wakaf Jadi Andalan Warga Muara Gembong' photo

ACTNews, BEKASI - Musala yang terletak di Kampung Solokan Kendal, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi sudah ada sejak sekitar 1950. Usia musala itu seolah dapat dilihat dari cat temboknya yang sudah mulai mengelupas, serta gentingnya yang sudah mulai menampakkan lumut. Namun hingga kini, musala yang bernama Nur Amin itu masih sering digunakan warga.

“Walaupun begini juga, musala ini masih sering dipakai oleh warga. Alhamdulillah jemaah masih ramai, terutama kalau tarawih saat Ramadan, bisa sesak karena jemaahnya musala ini,” ujar Aca Sugianto, salah satu anggota dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pantai Bahagia, pada Sabtu (7/9) lalu.

Tetapi warga yang ingin beribadah seringkali kesulitan mendapatkan air. Tempat wudu mereka yang lama tidak bisa cukup untuk semua jemaah. Selain itu, air yang mereka gunakan juga rasanya agak payau karena letak desa yang berada di daerah pesisir, sehingga mereka lebih memilih mencari air di tempat-tempat lain.

“Mereka sangat kesulitan untuk mengambil air wudu. Warga harus ke pinggiran sungai Citarum, atau ke tempat warga-warga sekitar. Jadi Sumur Wakaf dari para wakif Global Wakaf, sangat tepat sekali untuk ditempatkan di lokasi ini dan sangat membantu bagi para jemaah dan umumnya bagi warga sekitar,” kata Aca.


Warga sebenarnya banyak yang memiliki sumur galian di rumahnya masing-masing. Namun mengingat mereka tinggal di pesisir, air yang dihasilkan dari galian dengan kedalaman 10 hingga 15 meter tersebut kurang layak untuk digunakan. Airnya kuning dan rasanya cenderung payau. Oleh karenanya, dibutuhkan kedalaman setidaknya seratus meter seperti kedalaman Sumur Wakaf yang dibangun oleh Global Wakaf.

Sumur Wakaf tersebut sudah bisa digunakan pada hari itu juga setelah dibangun selama satu pekan. Menurut Aca, pembangunan itu dikebut demi kebutuhan air warga yang cukup mendesak akibat kekeringan. Menurut Kahar, salah satu warga, saat ini kekeringan ikut menyulitkan kondisi air mereka.

“Kering memang di rumah-rumah, makanya kita suka ambil ke sungai. Walaupun asin, ya tidak apa-apa. Biasanya kondisi air di sini tawarnya ketika musim hujan saja. Ini kan sudah hujan ,kalau tidak salah hampir enam bulan kan,” jelas Kahar.

Kahar berharap ke depannya Sumur Wakaf dapat bermanfaat bagi warga sekitar. Saat ini saja Sumur Wakaf tidak hanya dimanfaatkan oleh jemaah musala, tetapi juga warga sekitar yang menampung air dari Sumur Wakaf ini dan digunakan bagi kebutuhan sehari-hari. []

Bagikan