Sumur Wakaf, Solusi Jangka Panjang Kekeringan di Cibarusah

Kebanyakan warga juga tidak dapat memiliki sumur sendiri karena kondisi keuangan yang tidak mencukupi untuk membuat sumur. Saat kemarau panjang melanda, warga jadi sulit mencari air.

ACTNews, BEKASI - Seremoni peletakan batu pertama oleh Kepala Desa Ridogalih, Komarudin, menjadi penanda awal pembangunan dari Sumur Wakaf di desa tersebut. Pembangunan Sumur Wakaf ini adalah salah satu penanganan jangka panjang atas kekeringan yang kerap melanda Kampung Gempol II di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi.

Sumur bor yang berdiri di belakang Masjid Jami Al-Barkah, Kampung Gempol II tersebut menjadi salah satu harapan untuk warga di kala kemarau panjang melanda seperti sekarang. Komarudin mengatakan, warga kebanyakan belum memiliki sumur sendiri karena biaya yang tidak terjangkau. Untuk membangun sumur yang cukup dalam diperlukan biaya lebih dari 10 juta rupiah.

“Karena kita memang daerah tandus ya, rata-rata warga juga belum punya sumur sendiri karena ketidakmampuan ekonomi masyarakat. Ratusan meter juga belum tentu dapat. Ada di dekat rumah saya, itu sumurnya 80 meter. Airnya banyak, tapi memang rasanya asin,” kata Komarudin pada Kamis (23/8) lalu.


Namun begitu, ketika sangat terpaksa, diakui Komarudin banyak warga yang akhirnya membeli air karena sangat membutuhkan. Masrifah, salah satu warga Desa Ridogalih, minimal mengeluarkan 50 ribu rupiah setiap satu minggu untuk keperluan MCK dan memasak.

“Kadang kalau tidak cukup dan kebetulan ada uang juga, kami suka beli saja, harganya 50 ribu satu toren. Kadang seminggu lebih bisa habis, kadang kurang dari seminggu. Tergantung kebutuhan airnya saat itu memang,” kata Masrifah. Selain itu Masrifah juga mengandalkan distribusi air yang datang setiap satu minggu sekali dari berbagai pihak, termasuk Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang hari itu melakukan distribusi.

Kekeringan yang demikian memang sering terjadi di Desa Ridogalih. Komarudin menceritakan beberapa tahun yang lalu kekeringan melanda desa lebih lama lagi, yakni hingga tujuh bulan lamanya. Oleh karenanya, ia merasa berterima kasih dengan adanya Sumur Wakaf ini yang bertujuan untuk mengatasi kekeringan jangka panjang.

“Sebagai kepala desa, saya merasa bangga dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kekeringan untuk jangka panjang melalui Sumur Wakaf ini. Baik kepada Global Wakaf, maupun kepada para pewakif yang telah mewakafkan untuk sumur ini,” kata Komarudin.