Sumur Wakaf Solusi Krisis Air Pascabencana di Sigi

Puluhan Sumur Wakaf kini telah terbangun dan puluhan lainnya masih proses penggalian di Kabupaten Sigi. Sejak bencana dahsyat pada 2018 silam, warganya harus merasakan krisis air bersih berkepanjangan.

Sumur Wakaf Solusi Krisis Air Pascabencana di Sigi' photo
Proses pembangunan Sumur Wakaf Pertanian di Desa Potoya, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. (ACTNews)

ACTNews, SIGI - Gempa bumi dengan magnitudo besar yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala pada September 2018 silam mengakibatkan dampak berkepanjangan yang terasa hingga sekarang. Warga di Desa Potoya, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi adalah contohnya. Mereka kini bertahan hidup dengan kondisi pertanian yang kekurangan air karena Irigasi Gumbasa yang terputus akibat likuefaksi.

Meski sudah dilakukan rehabilitasi saluran Irigasi Gumbasa, saluran tersebut belum mampu mengalirkan air ke berbagai daerah seperti semula. Saat ini ada 8 ribu hektare lahan sawah yang mengalami kekeringan akibat terputusnya irigasi, dan setelah perbaikan saluran, air baru menjangkau 1.010 hektare lahan.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang sejak hari pertama bencana telah hadir di wilayah terdampak bencana di Sulteng itu, hingga hari ini pun terus melakukan pendampingan lewat berbagai program. Untuk memenuhi kebutuhan air, ACT bersama Global Wakaf membangun Sumur Wakaf Pertanian di sana. Harapannya, Sumur Wakaf menjadi solusi kekeringan yang melanda daerah terdampak bencana, khususnya petani.

Sumur Wakaf Pertanian bisa dimanfaatkan oleh beberapa petani untuk memenuhi kebutuhan air tanamannya. Untuk itu, Global Wakaf - ACT melibatkan kelompok tani agar suplai air dapat dibagikan secara merata. "Sumur Wakaf Pertanian dibangun di lahan-lahan pertanian milik warga, diharapkan sumur ini bisa mengembalikan produktivitas lahan pertanian,” jelas Kepala Cabang Global Wakaf - ACT Sulteng Nurmarjani Loulembah, atau yang akrab disapa Nani, Sabtu (6/6).

Nani menambahkan, saat ini Global Wakaf - ACT memfokuskan pembangunan Sumur Wakaf di Kabupaten Sigi. Dampak kekeringan dari terputusnya jaringan irigasi setelah bencana yang cukup parah menjadi alasannya. Selain soal pertanian, air untuk kebutuhan rumah tangga pun terganggu sejak bencana lalu. Untuk itu, tak hanya Sumur Wakaf Pertanian saja yang dibangun, tapi juga Sumur Wakaf Keluarga serta Sumur Wakaf untuk melengkapi fasilitas MCK dan air wudu untuk umum.

Sampai saat ini sudah ada 40 Sumur Wakaf dengan kedalaman yang beragam di beberapa desa di Kecamatan Dolo, Sigi. Desa-desa itu antara lain Karawana, Potoya, Solove, Sibalaya, Sidondo, Sibowi, dan Maranata. Ada juga sumur yang telah ACT bangun bersama mitra dari Jepang di Desa Maranata ada 13 titik, 5 titik di Sibowi dan 8 titik di Sidondo.

Global Wakaf - ACT juga terus membangun sumur wakaf di puluhan titik di Kabupaten Sigi. Ada 25 sumur yang dalam proses pengerjaan yang tersebar di Desa Solove dan Potoya. Dari hasil asesmen tim ACT Sulteng, saat ini ada delapan desa yang masih sangat membutuhkan Sumur Wakaf sebagai sumber air. Semua desa itu merupakan wilayah yang dilintasi aliran Irigasi Gumbasa yang hancur dilanda likuefaksi.[]


Bagikan