Sumur Wakaf Tunjang Pendidikan dan Ibadah Warga Tasikmalaya

Sumur Wakaf yang berada di Masjid Desa Picungpugur, Tasikmalaya, mengalirkan airnya untuk warga setempat. Tidak hanya untuk ibadah di masjid saja, airnya juga sudah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan harian warga.

Sumur Wakaf Tunjang Pendidikan dan Ibadah Warga Tasikmalaya' photo

ACTNews, TASIKMALAYA - Seorang anak laki-laki asyik dengan buku dan pensilnya. Ada sebaris huruf Arab tertulis di bagian atas buku itu dan pelan-pelan ia mengikuti tulisan tersebut tepat di baris bawahnya, satu demi satu. Teman-temannya yang lain pun demikian. Bahkan ada yang menggunakan pensil warna-warni untuk menulis tulisan Arab itu.

Memang sudah jadi aktivitas anak-anak Kelompok Bermain Az-Zahra untuk belajar bersama setiap harinya. Erna selaku pengajar di sana mengatakan, jumlah anak-anak di Kampung Picungpugur, Desa Cintabodas, Tasikmalaya tersebut tidak kurang dari 65 orang.

Selain anak-anak TK dan SD, anak-anak SMP dan SMA sekitar juga belajar kitab kuning sehari-harinya di sana. Bersama suaminya, Apendi, Erna mengajari anak-anak TK setiap sebelum subuh. Mereka lantas mengajar anak-anak SMP sejak para murid pulang sekolah hingga waktu asar. Sementara selepas magrib hingga isya, mereka mengajar anak-anak SMA mengkaji kitab kuning. Kegiatan ini telah berlangsung sejak 2008 silam.

Di antara aktivitas-aktivitas belajar tersebut, mereka juga rutin melakukan salat berjamaah. Kebutuhan air untuk wudu biasa mereka gunakan di Masjid Desa Picungpugur yang berada tepat di sebelah bangunan Kelompok Bermain Az-Zahra. Sejak 2017, kebutuhan air di masjid itu sendiri disuplai oleh Global Wakaf melalui program Sumur Wakaf.


“Di sini memang suka kering kalau kemarau. Alhamdulillah, sekarang ada Sumur Wakaf ini jadi tidak kering lagi. Yang biasa kita gunakan di sini kan sumur biasa, bukan sumur bor, jadi sering kering. Warga juga sekarang kalau airnya sudah kering ketika kemarau suka ambil ke sini juga dengan jeriken,” kata Erna, Rabu (31/8) silam.

Dahulu sebelum adanya Sumur Wakaf, air memang selalu ada, baik di masjid maupun di rumah warga. Tetapi beda ceritanya ketika kemarau panjang melanda. Warga kerap kehabisan air karena kekeringan.

“Kalau sudah tidak ada air warga suka pergi ke sungai kecil yang letaknya menurun ke bawah kampung ini. Jaraknya lumayan setengah kilometer kalau ke sana. Tapi jalannya itu yang masalah. Kalau pergi ke sana itu jalannya ‘bagus’,” sindir Erna sambil tertawa.

Memang jalan menuju ke sungai kecil itu curam dan licin karena terletak di dekat persawahan. Ketika sampai pun, seperti tidak terlihat sungai sama sekali di sana. Sungai yang biasa digunakan warga hampir kering. Begitu juga dengan MCK umum yang berada dekat sungai.


Selama dua tahun tersebut, Erna mengatakan warga sudah jarang menggunakan sungai yang ada di bawah permukiman itu. Mereka cukup terbantu dengan adanya Sumur Wakaf ini. Oleh karenanya, warga bersama-sama merawat Sumur Wakaf tanpa membebankan kepada satu orang saja.

“Kalau merawatnya, kami di sini bersama-sama saja. Siapa yang pakai, ikut juga merawat. Ini kan soalnya punya bersama. Pernah satu kali airnya tidak mengalir, ternyata cuma pipanya yang bocor, ya kita ganti bersama-sama,” kata Erna.

Apendi memperkirakan sekira 75 rumah di kampung tersebut atau 120 keluarga yang mendapatkan manfaat dari Sumur Wakaf ini. Selain untuk keperluan MCK, warga juga bisa memanfaatkan Sumur Wakaf untuk keperluan konsumsi.

“Bahkan untuk memasak juga bisa memakai air dari Sumur Wakaf di sini. Ambilnya bisa menggunakan ember dan jeriken. Selain itu alhamdulillah juga, bisa menunjang ibadah di masjid karena ambil wudunya sekarang lebih mudah,” kata Apendi.

Apendi bersyukur Sumur Wakaf dapat menunjang aktivitas warga sekitar. Ia berterima kasih kepada Global Wakaf dan khususnya kepada wakif yang telah mewakafkan sumur ini. “Kepada wakif, terima kasih telah mewakafkan Sumur Wakaf kepada masyarakat saya, diwakili oleh saya di sini. Semoga Bapak selalu ada dalam lindungan Allah SWT,” harap Apendi. [] 

Bagikan