Sungai Eufrat Mengering, Krisis Suriah Berisiko Makin Parah

Sungai Eufrat yang menjadi pemasok air bersih utama bagi warga Suriah mulai mengering. Krisis listrik turut mengancam jutaan warga karena dampak dari bendungan yang ikut mengering.

sungai efrat mengering
Sungai Eufrat yang mulai mengering (AFP/Delil Souleiman)

ACTNews, SURIAH – Sungai Eufrat merupakan sungai terpanjang di Asia Barat. Sungai ada di tiga negara Asia, yaitu Turki, Suriah dan Irak. Dari sumbernya di kawasan timur Turki, Sungai Eufrat mengalir melintasi Suriah dan Irak. Sampai akhirnya bersatu dengan Sungai Tigris sebelum berakhir di Sungai Syattul Arab yang bermuara di Teluk Persia

Sungai Eufrat telah menjadi pemasok air terbesar di kawasan Asia Barat, khususnya Suriah. Banyak warga Suriah memanfaatkan air Sungai Eufrat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misal, para petani menggunakannya untuk mengairi lahan. Sementara di utara Suriah, aliran sungai Eufrat digunakan untuk pembangkit listrik dan memasok kebutuhan listrik jutaan penduduk.

Namun, beberapa bulan terakhir 2021 ini, air di Sungai Eufrat mulai mengering. Debit airnya menurun drastis. Para ahli pun memperingatkan bencana krisis kemanusiaan yang akan datang di Suriah, khususnya di wilayah timur laut, di mana berkurangnya aliran sungai terjadi paling cepat dibanding wilayah lain.

Salah satu petani di Suriah, Khaled al-Khamees (50) menceritakan, ia selalu mengandalkan air dari Sungai Eufrat untuk mengairi lahan pertanian zaitunnya. Namun, sejak sungai tersebut mulai surat, ia kesulitan mendapatkan air. Pohon-pohon zaitunnya layu.  Khaled bahkan juga tak mampu menyediakan air untuk keluarganya.

“Seolah-olah kita berada di padang pasir. Kami berpikir untuk pergi karena tidak ada air yang tersisa untuk diminum atau mengairi pepohonan.” ujar Khaled.

Ayah 12 anak ini mengatakan, dia belum pernah melihat sungai yang begitu jauh dari desa selama beberapa dekade.

“Para wanita harus berjalan 7 km hanya untuk mendapatkan seember air untuk minum anak-anak mereka,” kata Khaled.

Sementara itu, surutnya air di bendungan yang terintegrasi dengan Sungai Eufrat disebut sejumlah ahli juga mengancam pemadaman air dan listrik hingga lima juta warga Suriah. Di Bendungan Tishrin, misalnya. Terjadi penurunan debit air parah yang belum pernah terjadi sejak bendungan tersebut dibangun pada 1999. “Ini bencana kemanusiaan,” kata Hammoud al-Hadiyyeen, operator utama Bendungan Tishrin.[]