Suprayitno, Pengemudi Ojol Berhati Besar

Suprayitno, Pengemudi Ojol Berhati Besar

ACTNews, JAKARTA - Malam itu, Kamis (4/10), Sekretariat Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jakarta Raya (Jakray) di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat tampak ramai. Sejumlah relawan tengah sibuk menghitung hasil donasi Palu-Donggala yang masuk hari itu, sambil mempersiapkan perlengkapan aksi penggalangan dana Palu-Donggala untuk hari berikutnya Beberapa lainnya, sibuk menyiapkan ratusan paket sekolah untuk Lombok. Walau kini fokus berpindah ke Palu dan Donggala, tapi tidak serta-merta Lombok terlupa.

Ramai malam itu, pintu Sekretariat MRI Jakray diketuk pelan. Seseorang di balik pintu terlihat, mengucap salam. Suaranya tenang tapi terdengar lelah, sesosok lelaki dengan jaket bertuliskan salah satu perusahaan aplikasi transportasi daring datang bertamu. Suprayitno (34) yang akrab disapa Pray, pekerjaannya sehari-hari mengemudi ojek online (ojol)

Kedatangan Pray malam itu bukan untuk mengantar atau menjemput pesanan teman-teman relawan. Melainkan menyetor seluruh hasil mengojek hari itu untuk didonasikan kepada korban gempa dan tsunami di Palu-Sigi-Donggala, Sulawesi Tengah. Dana itu akan disalurkan melalui MRI-ACT.

Sebuah kertas berukuran A4 terlaminasi menempel di punggungnya yang tampak tegap, namun terlihat lelah selepas berkutat dengan jalanan ibukota. “Pray for Palu & Donggala” begitu tulisannya. Kertas itu bahkan dijahit di keempat sisinya, menyatu dengan jaket hijaunya. Satu sisi jahitannya sudah terlepas.

“Tulisan ini dibuat anak sulung saya, Rizki. Dia yang ketikin mendadak, dia juga yang ngeprint ke warnet. Nah, yang jahitin ini istri saya tadi subuh sebelum saya berangkat ngojek. Ini copot satu jahitannya karena dirobek sama penumpang, dikira dia saya dijailin sama orang, ditempelin ginian. Si penumpang itu baru ngeh pas dia baca tulisannya,” ujar Pray terkekeh.

Bahkan dalam beberapa kali mengemudi di tengah Ibukota, semangat Pray untuk membantu Palu dan Donggala itu sempat goyah. “Sempet juga mau terbang kena angin, tapi saya doa aja sama Allah. Kalau kertas ini bikin saya ujub, biar deh copot saja sekalian (terbang terkena angin). Kalau nggak, semoga ya tetap nempel sampai hari ini selesai,” kisah Pak Pray seraya tersenyum, teduh.

Awalnya, berita duka gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah sampai ke telinga Suprayitno. Dorongan kuat datang dari sebuah video yang ia tonton berkali-kali di linimasa media sosialnya.

“Saya dapat banyak kiriman video, ada video anak kecil yang selamat setelah tertimbun lumpur. Langsung saya ingat anak-anak saya, Rizki sama Lita.”

Hatinya memanggil, tekadnya membara, jiwanya menyahut. Berbekal restu istri dan anak-anaknya, ia berangkat kerja sejak pukul enam pagi pada Kamis (4/10) dari huniannya di Cakung, Jakarta Timur. Niatnya untuk menggalang dana dari hasil mengantar penumpang seharian menggunakan motor kesayangannya berbuah manis. 

Wajahnya berkaca-kaca seraya bercerita pengalaman seharian sambil merogoh saku celananya. Selain dapat tip dari penumpang setelah lihat kertas di punggung, Pray juga mencairkan uang bonus dan semua deposit yang ada di akunnya.

“Saya tidak sangka bisa dapat sampai segini, dari 2015 hari ini pendapatan paling besar,” ujarnya penuh syukur.

Pray meyakini bahwa, semua kemudahan yang ia dapatkan adalah atas izin Allah. Dari orderan ojek online yang terus masuk tanpa hambatan, hingga titik pengantaran yang jauh dan tentu menambah penghasilan Pray.

“Ini kuasanya Allah, buat saudara-saudara di Palu. Rezekinya mereka, lewat orderan ojek online saya hari ini. Allah semua ini yang atur, umur, rezeki, maut. Kita cuma perlu mendekat aja terus sama Allah” ucapnya.

Sebelum berpamitan, Pray menyampaikan harapannya untuk seluruh korban bencana alam agar terus bersabar dan bertawakal. “Berserah diri kepada Allah atas segala hal yang menimpa. Bahwa Semua dalam genggaman-Nya,” tutur Pray.

Tidak lupa, lewat gerakan sederhana yang ia mulai, Pray mengajak teman-temannya yang lain untuk ambil bagian membantu memulihkan pascagempa di Sulawesi Tengah, bahkan Lombok. “Buat teman-teman ojol lainnya, saya ingin mengajak rekan-rekan untuk menyisihkan sebagian pendapatan kita. Baik untuk Lombok, maupun Palu. Keduanya, adalah Indonesia, kita,” ajaknya dengan mata berkaca-kaca. Berawal dari tekad yang kuat dan niat yang lurus, Pray mengajarkan ilmu paling sederhana bahwa. siapapun dapat menyambut kebaikan.

Datangnya bencana yang Allah turunkan, menjadi ladang bagi semua makhluk Allah untuk menyambutnya dengan melakukan kebaikan. Termasuk Pray, juga segenap tim MRI Jakarta Raya dan Aksi Cepat Tanggap, siapapun yang tergerak dapat berkolaborasi untuk membangun kembali Palu-Donggala. Kamu, keluargamu, teman-temanmu, siapapun. []