Sutiyah, Tulang Punggung Keluarga Sandaran Dua Anak Berkebutuhan Khusus

Bagi Sutiyah, tidak ada kata menyerah. Ia terus berusaha untuk meningkatkan produksi dan memulihkan kembali usahanya. Beruntung, ia mendapatkan bantuan dari Wakaf Modal Usaha Miko Global Wakaf-ACT. Uang ini digunakan sebagai modal tambahan.

Sutiyah. (ACTNews)

ACTNews, DEPOK Perjuangan Sutiyah bisa di contoh oleh banyak orang. Perempuan yang tinggal di daerah Rangkapan Jaya, Depok ini, memiliki anak dengan kebutuhan khusus dan cucu yang mengidap tumor tulang. Sejak pandemi Covid-19, suami Sutiyah juga terkena PHK. Kini, ia harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dua tanggungan pengobatan rutin mesti ia sanggupi. Jumlahnya pun tidak sedikit.

Tuntutan pengeluaran yang banyak membuat Sutiyah memutuskan untuk berjualan olahan dari tepung mocaf atau tepung singkong. Sebelum pandemi, ia bisa mendapatkan omzet sebesar Rp8 juta per bulan. Namun, di saat ini, mendapatkan Rp1 juta diakuinya amat sulit.

Modal usaha Sutiyah semakin menyusut karena jualan yang tidak laku. Untuk mensiasati hal ini, ia menambah varian peyek kacang, telur gabus, dan makaroni rujak. Ia juga memperkuat usahanya dengan menambah merek dagang serta mengurus sertifikat 'Halal MUI'.

Bagi Sutiyah, tidak ada kata menyerah. Ia terus berusaha untuk meningkatkan produksi dan memulihkan kembali usahanya. Beruntung, ia mendapatkan bantuan dari Wakaf Modal Usaha Mikro Global Wakaf-ACT. Uang ini digunakan sebagai modal tambahan.


Sutiyah dan anaknya yang berkebutuhan khusus. (ACTNews)

“Alhamdulillah. Bantuan ini bisa jadi modal saya untuk usaha. Terimakasih kepada Global Wakaf-ACT dan donatur, semoga rezekinya melimpah dan bisa bantu orang lain juga,” ujar Sutiyah.

Fathiyah Azizah dari tim Global Wakaf-ACT memaparkan, dukungan modal diprioritaskan untuk perempuan-perempuan pemilik usaha mikro yang berjuang seperti Sutiyah. Sebelum di berikan bantuan, tim Global Wakaf-ACT akan melakukan asesmen awal terkait kebutuhan modal usaha.  “Salah satu kriteria penerima WMUMI ini adalah usaha yang sangat terdampak pandemi dan bisa kembali berjalan dengan adanya tambahan modal usaha,” ujar Fathiyah.[]