Syukur Warga Gaza Berobat ke Klinik Indonesia

Dari daerah paling utara Baitlahia, Gaza, Rami Al Galayne bersyukur ada sebuah pusat kesehatan yang dekat tempat tinggal keluarganya: Klinik Indonesia untuk Gaza.

Syukur Warga Gaza Berobat ke Klinik Indonesia' photo
Sarah, putri Rami Al Galayne memeriksakan kesehatannya secara berkala di Klinik Indonesia. Sejak 2008, kaki sarah harus diamputasi. Ia terluka akibat serangan Israel. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Sebuah kereta yang ditarik seekor kuda berhenti di depan Klinik Indonesia untuk Gaza. Seorang laki-laki paruh baya dan seorang anak perempuan bergegas menuruni kereta, masuk ke dalam klinik.

Mereka adalah Rami Al Galayne dan putrinya, Sarah, warga Baitlahia, Gaza Utara. Sebagai seorang ayah, Rami kerap khawatir atas kesehatan Sarah. Anak perempuannya membutuhkan perawatan medis intens.

Tahun 2008, Sarah kehilangan kaki karena terkena serangan Israel. Kaki kanan Sarah harus diamputasi. Siswa kelas empat sekolah dasar itu masih membutuhkan tindak lanjut medis hingga hari ini.

“Kami tinggal di daerah perbatasan (daerah paling utara Bait Lahia), transportasi sangat sulit. Kami berharap jika ada ambulans yang membawa kami ke klinik Indonesia atau rumah sakit dalam waktu darurat,” cerita Rami kepada relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Gaza.

Rami menceritakan, tidak ada transportasi yang mencapai daerah Bait Lahia paling utara pada malam hari. Menurut Rami, kesulitan ini dirasakan semua penduduk di daerah perbatasan Gaza. Hal ini sungguh mengerikan bila keadaan darurat terjadi.

Ia pun mendengar tentang klinik ACT di Gaza Utara yang menyediakan layanan medis gratis bagi orang-orang yang terluka. “Saya percaya ini adalah klinik pertama dan unik yang menyediakan layanan semacam ini di antara Jalur Gaza. Sungguh, terima kasih banyak untuk semua yang berkontribusi membangun klinik ini,” ujar Rami.

Selain pemeriksaan intens, Sarah juga membutuhkan kaki prostetik. Rami berharap ada dermawan yang memberikan kaki palsu untuk memudahkan aktivitas putrinya itu, terutama saat beraktivitas di sekolah. Selain bantuan medis, ACT turut memberikan kursi roda untuk kemudahan mobilitas Sarah.

Selain keadaan Sarah, kondisi rumah Rami juga memprihatinkan. Ia harus menaruh sejumlah wadah di sepanjang lantai dan kasur untuk menampung air hujan yang merembes di celah-celah asbes atap rumah saat musim dingin.

"Sering kali saya menggunakan banyak panci untuk mengumpulkan tetesan air hujan di tempat tidur anak-anak yang membuat saya tetap terjaga sepanjang malam,” aku Rami. []


Bagikan