Tahun Ajaran Baru, Pengungsi Anak Uighur di Turki Terima Tunjangan Pendidikan

Biaya pendidikan dan tunjangan guru menjadi ikhtiar dermawan Indonesia untuk turut mendukung dunia pendidikan bagi pengungsi Uighur di Turki.

Tahun Ajaran Baru, Pengungsi Anak Uighur di Turki Terima Tunjangan Pendidikan' photo
Pendidikan tahfiz menjadi salah satu materi pendidikan yang diandalkan bagi pengungsi anak Uighur di Turki. (ACTNews)

ACTNews, TURKI Yel-yel dan lagu didendangkan para siswa perempuan di salah satu madrasah tahfiz yang mengajar anak-anak Uighur di Turki. Kala itu bertepatan dengan waktu istirahat ketika tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) tiba di sana. Kunjungan tim ACT hari itu bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi juga menyampaikan amanah dari para dermawan.

Turki memang menjadi salah satu negara pilihan "hijrah" bagi muslim Uighur. Menurut data Reuters per 2019, sekitar 35.000 jiwa Uighur berada di Turki. Mereka datang untuk mengungsi dan mencari penghidupan yang lebih layak walaupun pada kenyataannya, tidak semua dari para pengungsi Uighur mendapatkan kehidupan yang mereka inginkan, termasuk dalam pendidikan.

Oktober ini, kedermawan Indonesia kembali menyapa pengungsi Uighur. Bertepatan dengan tahun ajaran baru di Turki, buah kedermawanan itu disalurkan dalam bentuk tunjangan pendidikan dan tunjangan guru.


Pengungsi anak Uighur di Turki belajar tentang Alquran di sekolah Tahfiz. (ACTNews)

"Akhir September lalu merupakan tahun ajaran baru untuk sekolah-sekolah di Turki. Bantuan ini diberikan kepada 350 siswa tahfiz menerima tunjangan pendidikan dan 20 guru menerima tunjangan guru. Para penerima manfaat adalah adalah pengungsi Uighur yang sangat membutuhkan," lapor Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT.

Firdaus menerangkan, anak-anak Uighur dari keluarga prasejahtera masih amat membutuhkan dukungan finansial, terutama untuk tetap melangsungkan pendidikan. Belum lagi, status kewarganegaraan membuat sejumlah pengungsi anak terkendala mendapatkan pendidikan.

"Untuk anak-anak Uighur di wilayah Turki, sebagian besar dari mereka masih belum mendapat izin tinggal tetap dan tidak dapat bersekolah di sekolah pemerintah Turki," terang Firdaus. Ia berharap, dengan bantuan biaya sekolah ini, keluarga pengungsi Uighur dapat tetap memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa harus mengesampingkan biaya sekolah anak-anak mereka. []

Bagikan