Tak Ada Kata Lelah untuk Kemanusiaan

Tak Ada Kata Lelah untuk Kemanusiaan

Tak Ada Kata Lelah untuk Kemanusiaan' photo

ACTNews, JAKARTA - Di penghujung 2018, krisis kemanusiaan dan bencana silih berganti menjadi topik hangat media massa. Dimulai dari penindasan yang menimpa etnis Uighur oleh Pemerintah Cina, hingga tsunami di kawasan Selat Sunda dan banjir yang melanda beberapa wilayah di Indonesia. Semua krisis kemanusiaan dan bencana itu direspon cepat oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT).

“Tak ada libur untuk urusan kemanusiaan, karena dengan membantu mereka yang membutuhkan merupakan kebahagiaan tersendiri. Ayo bersama bahagiakan saudara kita, jangan pernah lelah,” ungkap Presiden ACT Ahyudin memotivasi pekerja kemanusiaan ACT.

Tak ada kata lelah untuk kemanusiaan, begitulah semangat yang diusung ACT. Di saat sebagian orang sibuk menikmati akhir tahun dan bersiap menyambut tahun 2019, tim ACT terus berjibaku memberikan bantuan terbaik bagi masalah kemanusiaan internasional maupun nasional. Diawali dari krisis kemanusiaan terhadap etnis Uighur di pertengahan Desember, ACT langsung merespon dengan mengeluarkan pernyataan sikap mengecam tindakan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) oleh Cina.

 

“Hari ini dunia tau seperti apa krisis yang menimpa Uighur yang bersumber dari kezaliman pemerintah mereka, seperti pelarangan hak untuk beribadah. Siapa pun dan di mana pun umat yang mengalami kekejaman atau kezaliman, maka sudah sewajarnya ACT, lembaga kemanusiaan, menyuarakan dukungan kemanusiaan bagi mereka, termasuk Uighur,” ungkap Ahyudin dalam konferensi pers terkait pernyataan sikap dan aksi kemanusiaan untuk Uighur, Jumat (21/12).

ACT telah mengirim langsung Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Uighur I. Tim kemanusiaan ini diberangkatkan secara bertahap, menuju wilayah-wilayah di mana etnis Uighur mengungsi dari tindakan represi Pemerintah Cina di Xinjiang. Sejumlah wilayah tersebut di antaranya Turki, Kirgistan, Kazakhstan, dan Uzbekistan. Tim SOS juga berupaya untuk menjangkau warga Uighur di Xinjiang, Cina tempat pusat krisis.

Tidak hanya itu, ACT juga menggelar aksi solidaritas di seluruh Indonesia melalui kantor cabang ACT yang ada di daerah-daerah. Kegiatan tersebut juga diiringi dengan aksi penggalangan dana bagi muslim Uighur. Bantuan-bantuan tersebut bertujuan untuk penyelamatan kehidupan muslim Uighur dengan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papa. Bantuan juga dapat berupa beasiswa pendidikan, seperti yang telah ACT berikan pada mahasiswa Uighur di Turki pada 2017 lalu. Aksi-aksi ini sebagai bentuk keseriusan ACT dalam merespon krisis kemanusiaan di dunia.

 

Tantangan meningkat

Belum sampai seminggu kasus Uighur naik ke permukaan, ACT dihadapkan dengan bencana tsunami yang melanda wilayah Selat Sunda dan banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan data sementara Disaster Management Institute of Indonesia (DMII), hingga Kamis (27/12), tsunami yang melanda Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran pada Sabtu (22/12) telah menyebabkan 430 meninggal dunia, 1.495 luka-luka dan 159 hilang. Bencana terjadi tepat di hari pertama masyarakat menikmati libur panjang.

Realitas ini menegaskan besarnya tantangan kemanusiaan. Ahyudin menyampaikan, dampak pascabencana tidak hanya kerugian materi. "Yang jarang dikalkulasi, implikasi non-material, yaitu kemiskinan. Kawasan Banten maupun Lampung (yang terdampak bencana di Selat Sunda), tanpa terkena bencana, sudah termasuk kawasan miskin, apalagi kena bencana. Kemiskinan, memperburuk tingkat kesejahteraan kawasan ini," ungkap Ahyudin.

 

Ia menambahkan, langkah antisipatif yang dijalankan adalah ACT membantu kawasan prioritas. Tim terbaik telah menyisir lokasi terdampak bencana parah seperti Pandeglang, Lampung Selatan, dan Serang. Senin (24/12), empat posko dan dapur umum didirikan (di Pandeglang: Posko Induk dan Dapur Umum di Kecamatan Labuan, Posko Wilayah Sumur, Posko Wilayah Panimbang dan Tanjung Lesung, dan Posko Wilayah Anyer).

ACT juga menurunkan relawan dan tim medis. Vice President ACT Ibnu Khajar menuturkan, saat ini lebih dari 50 relawan yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) telah terjun di lokasi-lokasi terdampak bencana, bersama dengan Tim Emergency Response ACT. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah hingga 500 relawan. ACT juga menerjunkan Ambulans Pre-Hospital yang diberangkatkan dari Jakarta. Tim medis saat ini juga sudah menggelar layanan medis pertama di Kampung Kadukokosan, Desa Tembong, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang.

 

“Laporan dari relawan kita korban jiwa yang dievakuasi telah mencapai lebih dari 280 orang, ditambah lagi ribuan lainnya luka-luka,” ujar Ibnu. Belum selesai bencana tsunami Selat Sunda, Indonesia juga dilanda bencana banjir dan longsor di wilayah seperti Jember. ACT kembali merespon cepat dengan melakukan evakuasi dan distribusi bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Duka yang menguji kita, datang dua ragam, yang bersifat material berupa dampak langsung bencana; dan yang berupa kemiskinan sebagai silent disaster. Menghadapi fakta setegas ini, ACT melawannya dengan memberlakukan kerja kemanusiaan tanpa libur. Hanya perhatian Allah yang diharapkan. Semoga Indonesia tetap dalam kasih-sayang Allah,” pungkas Ibnu. []

Bagikan

Terpopuler